Sunday, July 28, 2013

Rasa Ini

Mengingat beberapa potong adegan beberapa hari lalu, ketika dengan nyaman kamu duduk disisiku dan tersenyum dengan setiap candaan yang kami ciptakan. tubuhku bersisian hangat dengan tubuhmu, menjadi sebuah getaran yang memang pernah aku rasakan, namun sempat terlupakan. aku menyenderkan kepalaku didekatmu, merasakan hangat aliran darah yang tenggelam tidak jauh dari situ.

Tanganku yang tak jauh dr tanganmu menahan diri untuk tidak menggenggamnya erat, seolah aku sedang bergulat dengan naluri dan rasa egoku, tapi sunggu aku merasakan semuanya lagi, seperti dulu, dulu yang tak pernah menjadi kita. dan kini aku dengan lancang menginginkanmu 'lagi'?

Aku menatapmu dan mencoba mendeskripsikannya, kamu pintar, dan wajahmu mendukung penampilanmu, tentu saja kamu dipuja banyak wanita. lalu aku siapa? teman yang mugkin akan selalu kau anggap teman. tidak lebih.

Aku teringat saat pertama kali kamu menggenggam tanganku didepan banyak orang. aku juga mengingat saat kamu membangun percakapan hanya untuk tetap ada disisiku. hah ini lucu, aku menyebutkan segalanya seolah kita pernah bersama, seolah pernah ada kata 'kita'.

Aku mengambil wudhu dan pergi untuk menghadapNya, ku lihat kau juga melakukan hal yang sama, dan lagi-lagi hatiku menyuarakan keinginan yang sebenarnya sulit. aku membayangkan kamu melafadzkan ayat-ayatNya didepanku lalu bersujud bersama. menjadi imamku, menjadi masa depanku. aku menghempaskan segalanya, sudahlah, aku terlalu jauh menginginkan hal itu.

Dan saat aku melihatmu tertidur, ini menjadi sensasi baru yang mungkin aku bisa aku rasakan lain waktu. aku berharap ketika kau memejamkan mata, tersirat sedikit bayanganku yang mungkin terekam sekian lama. aku benar-benar membiarkanku untuk berharap. seperti mencintai diam-diam, dan berusaha menjaganya agar itu tetap menjadi milikku sendiri.

Setelah malam itu kau rajin mengirimiku pesan singkat, membahas kejadian saat pertemuan kemarin. kamu bilang kamu takut merasakan sesuatu terhadapku. kamu takut? sedangkan aku sudah melakukannya. membiarkan rasa ini menjadi lebih berarti. rasa ini tidak akan pernah seimbang jika salah satu diantaranya enggan masuk kedalam suatu kisah. tidak akan pernah seimbang jika kamu tidak mencoba untuk sejenak memandangku dan rasakan segalanya.

Namun lagi-lagi aku terjebak oleh perasaanku sendiri, dan membuatnya semakin sulit. membuat aku berharap pesan singkat mu sudah ada ketika aku membuka ponsel, membuat aku tersenyum setiap kali membacanya. tapi aku bahagia, bahagia meskipun aku tidak pernah tau apa yang kamu rasakan, bahagia hanya karna kehadiranmu itu sudah cukup untukku, jadi kenapa aku harus menginginkan yang lebih?


Tapi salahkah aku menanti?