Sasha melangkahkan kakinya di jalan yang sudah sering dia lewati, sasha menghembuskan nafas panjangnya. Akhirnya dia sampai didepan gerbang sekolah. Diawal tahun ajaran baru ini, dia ingin segera melupakan vino, dia tidak bisa hidup dibawah bayang-bayang vino lagi.
Sudah 1 minggu, tapi Semuanya tampak sama, tidak ada yang berbeda dari sekolah ini. Sasha memutuskan untuk membeli segelas jeruk hangat ke arah kantin, setidaknya untuk menyegarkan fikirannya yang mulai runyam. Kantin pagi ini masih sepi, sasha memilih untuk kembali duduk dipelataran kelas sambil menunggu teman-temannya datang. Sasha berkali-kali melihat keadaan sekitar, lalu pandangannya berhenti disatu titik diseberang lapangan, sepertinya ada yang sedang memerhatikannya. Lalu tiba-tiba orang itu melangkah melalui koridor panjang ke arah kelas sasha. Sasha memerhatikan sosoknya, tapi sepertinya dia belum pernah melihat laki-laki yang kini semakin yakin untuk menghampirinya.
"Hai," laki-laki itu menyapanya dengan ramah kearah sasha, sasha pun memastikan bahwa dia lah orang yang maksud.
"Oh ya, hai," sasha memastikan siapa laki-laki yang ada dihadapannya, wajahnya yang oriental masih asing, dan sasha yakin bahwa dia tidak mengenal laki-laki itu.
"Sasha ya? Kenalan dong. Aku anak baru disini." Sasha bingung mengapa orang ini mengenalnya.
"Jangan takut gitu dong, tapi maaf ya aku udah nyari tau nama kamu. Oh ya, nama aku azka," sasha menatap tangan yang ulurkan azka dengan ragu, lalu menjabatnya.
"Aku boleh minta nomer hp kamu?" Azka menatap sasha dengan percaya diri.
"Kamu cari tau nama aku sendiri, kamu cari tau aja sendiri nomer aku. Bisa kan?" Sasha meninggalkan azka yang masih termangu menatap punggung sasha yang hilang di balik pintu kelas.
Sasha tidak menyangka tadi dia berkata 'ya' saat azka memintanya menjadi menjadi kekasih. Sasha harusnya memikirkan semua ini baik-baik. Tapi setelah 5 bulan mengenal azka dari perkenalan singkat pagi itu, sasha tau azka tidak main-main. Hanya satu yang mengganjak hatinya. Sebuah perbedaan.
Sasha tau hanya satu perbedaan yang sampai kapan pun tidak akan pernah merubah apapun. Tapi sasha meyakinkan hatinya, bahwa mungkin Tuhan nya, dan Tuhan azka punya rencana yang indah, maka sasha memeluk azka dengan erat dan berharap bahwa azka lah jawaban akan doa sasha yang ingin melupakan vino.
bulan demi bulan mereka lewati dengan indah, azka selalu menunggu sasha ketika sholat dimasjid sekolah, sasha pun mengingatkan agar azka tidak pernah meninggalkan ibadah digerejanya. Semua berjalan dengan baik meskipun mereka tau mereka berbeda.
Sudah hampir 2 tahun sasha menjalani hubungan bersama azka. Tetapi tidak ada perubahan apapun. Sasha merasa tidak adil, mengapa cinta dipisahkan dengan takdir yang membelit mereka sejak lahir. Belum lagi orang tua yang tidak pernah ingin mengerti apa yang sesungguhnya mereka inginkan.
Sasha selalu berfikir, untuk apa semua perasaan ini jika akhirnya kita tidak dapat bersama? Untuk apa Tuhan mepertemukan mereka jika akhirnya membuat luka. Sasha tidak ingin menyerah, sasha tidak ingin semua pengorbanannya bersama azka sia-sia.
Mereka duduk ditaman dibawah sinar bulan yang merekah diantara langit yang kelam. Azka menggenggam tangan sasha.
"Mamah mau kita putus," sasha memecah keheningan sambil menggerakan kakinya dengan gugup.
"Mamahku juga," azka menatap sasha.
Malam itu berlalu dengan tangan yang tetap terpaut dan hati yang bergemuruh risau.
2 bulan sudah berlalu, Kini sasha menatap bulan ditaman yang sama, tapi dengan hati yang berbeda. Sasha tersenyum pahit mengingat betapa banyak yang telah dia perjuangkan, tapi semuanya berakhir begitu saja. Sasha mengerti, berpisah adalah jalan yang selalu ada dihadapan mereka. Seolah mereka memang tak pernah dijalur yang sama. Tapi setidaknya mereka pernah beriringan untuk saling tertawa.
Hari ini semuanya sudah berakhir, cinta dan cerita kini hanya ada dimasing-masing memori mereka. Sasha dan azka memang ditakdirkan dijalan yang berbeda, bodohnya sasha tetap yakin dan memaksa untuk bersama. Sasha tidak pernah menyesal mencintai azka, Karena sasha pernah merasa sangat bahagia. Dia berharap azka pun begitu.
Aku mencintaimu az...
hatinya berkata lirih
Tidak ada yang berubah. Sasha masih belum bisa melihat laki-laki manapun meskipun sudah 2 tahun semuanya berlalu. Seolah-olah azka adalah meteor yang jatuh dan sinarnya telah membutakan mata sasha. Sasha tidak bisa melihat bintang lagi.
Sore itu Sasha datang kembali ke sekolah yang telah mempertemukan mereka untuk pertama kali. Banyak yang telah berubah sejak saat itu, tapi tidak hatinya. Kenangan bersama azka sudah menjadi fase yang melekat dimemorinya. Sasha duduk dipelataran kelas yang dulu penah menjadi saksi tentang kisahnya. Sasha menatap langit yang sudah mulai gelap.
"Tuhan, terima kasih telah mepertemukan kami. Darinya aku belajar bahwa mengikhlaskan sesuatu yang berharga sangatlah sulit. Semoga dia bisa berbahagia tanpa aku."
Setetes air mata mengiringi kepulangan sasha disenja yang sunyi..
Sudah 1 minggu, tapi Semuanya tampak sama, tidak ada yang berbeda dari sekolah ini. Sasha memutuskan untuk membeli segelas jeruk hangat ke arah kantin, setidaknya untuk menyegarkan fikirannya yang mulai runyam. Kantin pagi ini masih sepi, sasha memilih untuk kembali duduk dipelataran kelas sambil menunggu teman-temannya datang. Sasha berkali-kali melihat keadaan sekitar, lalu pandangannya berhenti disatu titik diseberang lapangan, sepertinya ada yang sedang memerhatikannya. Lalu tiba-tiba orang itu melangkah melalui koridor panjang ke arah kelas sasha. Sasha memerhatikan sosoknya, tapi sepertinya dia belum pernah melihat laki-laki yang kini semakin yakin untuk menghampirinya.
"Hai," laki-laki itu menyapanya dengan ramah kearah sasha, sasha pun memastikan bahwa dia lah orang yang maksud.
"Oh ya, hai," sasha memastikan siapa laki-laki yang ada dihadapannya, wajahnya yang oriental masih asing, dan sasha yakin bahwa dia tidak mengenal laki-laki itu.
"Sasha ya? Kenalan dong. Aku anak baru disini." Sasha bingung mengapa orang ini mengenalnya.
"Jangan takut gitu dong, tapi maaf ya aku udah nyari tau nama kamu. Oh ya, nama aku azka," sasha menatap tangan yang ulurkan azka dengan ragu, lalu menjabatnya.
"Aku boleh minta nomer hp kamu?" Azka menatap sasha dengan percaya diri.
"Kamu cari tau nama aku sendiri, kamu cari tau aja sendiri nomer aku. Bisa kan?" Sasha meninggalkan azka yang masih termangu menatap punggung sasha yang hilang di balik pintu kelas.
****
Sasha tidak menyangka tadi dia berkata 'ya' saat azka memintanya menjadi menjadi kekasih. Sasha harusnya memikirkan semua ini baik-baik. Tapi setelah 5 bulan mengenal azka dari perkenalan singkat pagi itu, sasha tau azka tidak main-main. Hanya satu yang mengganjak hatinya. Sebuah perbedaan.
Sasha tau hanya satu perbedaan yang sampai kapan pun tidak akan pernah merubah apapun. Tapi sasha meyakinkan hatinya, bahwa mungkin Tuhan nya, dan Tuhan azka punya rencana yang indah, maka sasha memeluk azka dengan erat dan berharap bahwa azka lah jawaban akan doa sasha yang ingin melupakan vino.
bulan demi bulan mereka lewati dengan indah, azka selalu menunggu sasha ketika sholat dimasjid sekolah, sasha pun mengingatkan agar azka tidak pernah meninggalkan ibadah digerejanya. Semua berjalan dengan baik meskipun mereka tau mereka berbeda.
*****
Sudah hampir 2 tahun sasha menjalani hubungan bersama azka. Tetapi tidak ada perubahan apapun. Sasha merasa tidak adil, mengapa cinta dipisahkan dengan takdir yang membelit mereka sejak lahir. Belum lagi orang tua yang tidak pernah ingin mengerti apa yang sesungguhnya mereka inginkan.
Sasha selalu berfikir, untuk apa semua perasaan ini jika akhirnya kita tidak dapat bersama? Untuk apa Tuhan mepertemukan mereka jika akhirnya membuat luka. Sasha tidak ingin menyerah, sasha tidak ingin semua pengorbanannya bersama azka sia-sia.
Mereka duduk ditaman dibawah sinar bulan yang merekah diantara langit yang kelam. Azka menggenggam tangan sasha.
"Mamah mau kita putus," sasha memecah keheningan sambil menggerakan kakinya dengan gugup.
"Mamahku juga," azka menatap sasha.
Malam itu berlalu dengan tangan yang tetap terpaut dan hati yang bergemuruh risau.
2 bulan sudah berlalu, Kini sasha menatap bulan ditaman yang sama, tapi dengan hati yang berbeda. Sasha tersenyum pahit mengingat betapa banyak yang telah dia perjuangkan, tapi semuanya berakhir begitu saja. Sasha mengerti, berpisah adalah jalan yang selalu ada dihadapan mereka. Seolah mereka memang tak pernah dijalur yang sama. Tapi setidaknya mereka pernah beriringan untuk saling tertawa.
Hari ini semuanya sudah berakhir, cinta dan cerita kini hanya ada dimasing-masing memori mereka. Sasha dan azka memang ditakdirkan dijalan yang berbeda, bodohnya sasha tetap yakin dan memaksa untuk bersama. Sasha tidak pernah menyesal mencintai azka, Karena sasha pernah merasa sangat bahagia. Dia berharap azka pun begitu.
Aku mencintaimu az...
hatinya berkata lirih
*****
Tidak ada yang berubah. Sasha masih belum bisa melihat laki-laki manapun meskipun sudah 2 tahun semuanya berlalu. Seolah-olah azka adalah meteor yang jatuh dan sinarnya telah membutakan mata sasha. Sasha tidak bisa melihat bintang lagi.
Sore itu Sasha datang kembali ke sekolah yang telah mempertemukan mereka untuk pertama kali. Banyak yang telah berubah sejak saat itu, tapi tidak hatinya. Kenangan bersama azka sudah menjadi fase yang melekat dimemorinya. Sasha duduk dipelataran kelas yang dulu penah menjadi saksi tentang kisahnya. Sasha menatap langit yang sudah mulai gelap.
"Tuhan, terima kasih telah mepertemukan kami. Darinya aku belajar bahwa mengikhlaskan sesuatu yang berharga sangatlah sulit. Semoga dia bisa berbahagia tanpa aku."
Setetes air mata mengiringi kepulangan sasha disenja yang sunyi..