Monday, November 18, 2013

CAHAYA

pelita tak lagi bernyawa
sekelilingku sepi seperti hutan yang masih tertidur di awal musim semi
semua terasa kering tak hembuskan angin
rasa hangat, rindu  , dan kesepian membuncah memenuhi dada sehingga terasa sesak

kuhampiri serangkai bunga liar yang sedari tadi menatap ku
aku tersenyum namun mereka tak membalas
seketika angin terkoyak bagai memecahkan hening
terdengar bisik lembut rembulan menertawakanku

"apa yang kamu harapkan dari sebuah kegelapan ?
kamu berharap akan datangnya cahaya ?
apa kau yakin cahaya itu akan tetap cemerlang bila kamu yang meredupkannya"

lalu seisi kepalaku menjadi gulita
tak ada lentera yang dapat membantuku mencari kata yang tepat dipojok kelamnya
tapi aku berfikir tentang satu kata . "CAHAYA"

apa mungkin yang aku butuhkan hanyalah cahaya ?
bukan..
yang aku butuhkan adalah sebuah kerlipan bintang
tempat diamana cahaya itu duduk manis disetiap sudutnya
agar cahaya itu tak hanyut oleh angin

atau bahkan meredup oleh diriku sendiri

CAHAYA

pelita tak lagi bernyawa
sekelilingku sepi seperti hutan yang masih tertidur di awal musim semi
semua terasa kering tak hembuskan angin
rasa hangat, rindu  , dan kesepian membuncah memenuhi dada sehingga terasa sesak

kuhampiri serangkai bunga liar yang sedari tadi menatap ku
aku tersenyum namun mereka tak membalas
seketika angin terkoyak bagai memecahkan hening
terdengar bisik lembut rembulan menertawakanku

"apa yang kamu harapkan dari sebuah kegelapan ?
kamu berharap akan datangnya cahaya ?
apa kau yakin cahaya itu akan tetap cemerlang bila kamu yang meredupkannya"

lalu seisi kepalaku menjadi gulita
tak ada lentera yang dapat membantuku mencari kata yang tepat dipojok kelamnya
tapi aku berfikir tentang satu kata . "CAHAYA"

apa mungkin yang aku butuhkan hanyalah cahaya ?
bukan..
yang aku butuhkan adalah sebuah kerlipan bintang
tempat diamana cahaya itu duduk manis disetiap sudutnya
agar cahaya itu tak hanyut oleh angin

atau bahkan meredup oleh diriku sendiri

Tuesday, November 5, 2013

Sebuah Rasa Sakit



Hari ini, seolah tidak pernah merasakan apa itu artinya sebuah luka. Aku memegang dada ini dengan erat, menahan isak diantara bantal-bantal yang berserakan disekitarku. Luka dan rasa sakit yang pernah aku rasakan tidak akan pernah sebanding dengan kali ini. Air mata ini seolah tertumpah begitu saja tanpa aku sanggup mencegahnya. Pedih menyusup ke sendi-sendi tulangku tanpa ampun. 

Ketika kamu mencintai seseorang, rasa sakit adalah resiko yang harus kita terima ketika kita kehilangan orang itu. Tapi kadang, rasa sakit akan lebih terasa membunuh saat kita kehilangan perasaannya, dan akan lebih melegakan ketika kita tau kita tidak mungkin bersama namun perasaannya masih tetap utuh. Tapi ternyata hal itu tidak seberapa dengan apa yang aku rasakan kali ini, aku menelan pahit yang lebih menyakitkan ketika seseorang yang aku jaga hatinya selama ini berbalik kearah yang bersebrangan denganku, ketika kebencian yang memancar disetiap aliran darahnya ditujukan kepadaku. Ini sulit.. seketika saja nafasku mulai kehilangan arah,

Aku bukan saja kehilangan dia, aku juga telah kehilangan perasaannya, hatinya, dan tanpa sengaja menanamkan duri karna telah menyakitinya. Tuhan tau siapa yang aku cintai, Tuhan tau aku tidak pernah bermaksud membuatnya terluka. Kebenciannya merupakan hal terakhir yang aku inginkan didunia ini. Ku titipkan hatiku di setiap deru nafasnya, aku lantunkan kasih ini menjadi nada disetiap suaranya. Tapi apa yang aku dapatkan sekarang ? aku kehilanga nafasnya, aku kehilangan suaranya, karna kebenciannya yang tertumpah ruah membuat bernafas dan berbicara adalah hal yang tidak akan pernah dia lakukakan lagi.

Aku seperti sampah yang akan dia hindari dimanapun dia berpijak. Seolah cinta yang dia agungkan selama ini terpendam masuk kedalam jurang. Aku tak sanggup melihatnya melakukan ini. Melihat dia berusaha membuang semua serpihan cerita. Sakitnya adalah sakitku, namun membayangkan dia berada disisi orang lain saja membuat aku terjerembab. Lalu rasa sakit apa yang ada dan bersemayam disini? Menghabisi sel-sel tubuhku dengan cepat. Rasa pedih lainnya masih mampu aku atasi, namun aku baru saja menemukan kepedihan baru yang lebih menyakitkan.

Aku tidak akan mampu melihat orang lain selain dirinya, aku tidak akan mampu menyebut nama lain selain namanya, aku tidak mampu mendengar bisikan lain selain bisikannya. Aku tahu dia mencintaiku, sebesar rasa benci yang sekarang tumbuh dihatinya. Aku tidak bisa mengobati perih ini, aku hanya bisa menahannya agar tidak membakar habis sel yang berada dalam hati dan tubuhku. Dan meyakini, hanya akulah tempat dia kembali…

Jakarta, 5 november 2013

Dari setetes embun yang membutuhkan tempat untuk berpijak.



Nb : aku masih berharap bahwa 3 hari setelah hari ini, keadaan akan berubah :)