Sunday, December 30, 2012

Cinta Untuk Bulan Indah di Senyummu


Aku mencintaimu....
Aku terlalu rapuh, bahkan untuk menjaga  setiap keindahanmu
Setaip jengkal langkah yang ku tempuh akan terus menyirat kesedihan akan kehilangan
Aku membawamu telalu jauh dalam kesepian.. yang abadi..
Tapi sungguh, kamu lah alasanku untuk tetap tersenyum bahkan disaat badai sekali pun
Caramu tersenyum, seolah dedauan runtuh menjadi abu
Cahaya matahari yang menerpa wajahmu, mampu berpendar indah meski hanya disudut mataku.
Hanya kamu alasanku untuk tetap melihat bulan setiap malam.
untuk tetap merasakan angin yang menyapu indah setiap helai rambutmu.
seakan melihatmu saja sudah mampu membantuku untuk tetap bernafas lebih lama..

maafkan aku
yang mencintai sang rembulan terlalu dalam
dan tak mampu menjadi sesuatu yang abadi untuk senyumnya.
Yang rela membiarkan luka dalam dadanya terus menganga

Namun ternyata hidup tanpamu sama sekali bukan hidup
Waktuku terlalu singkat, bahkan untuk mendengar deru nafas yang kau hembus di kedalaman hati
Namun aku mencintaimu, mencintai dengan tubuh rapuhku.
Mencintai mu dengan segenap ketulusan.
Aku mencintaimu tak peduli betapa cepat waktu mengejarku
aku mencintaimu seperti edelweis yang rela jiwa-jiwanya pergi hanya karna tidak ada cara lain untuk mencintaimu.
aku mencintaimu... bahkan hingga kelopak mataku tertutup selamanya, rasa ini akan tetap bersinar diujung jagat raya.
mengapa harus menangis ketika kamu bisa melihat cahaya disaat gelap menerpa.?
Walaupun aku telah tiada....

Saturday, December 29, 2012

Surga dipulau Samalona III

Pagi itu, sehari setelah bersama petra dipulau samalona, aku membawa gogoso yang akan aku jual hari ini. berharap hari ini akan dapat terulang sama manisnya dengan kemarin. Aku mencari petra keseluruh antero pantai losari, bahkan menanyakannya pada petugas pantai hari itu, namun tak ada hasil. Akhirnya aku pergi ke pulau samalona untuk mencarinya, tapi pulau itu dipenuhi oleh wisatawan asing. Tak sedikitpun aku menemukan tanda-tanda petra ada disana. Akhirnya aku kembali pantai losari dan memutuskan bahwa petra hanyalah lelaki pecundang yang tak mungkin akan kembali lagi kesini untuk menemuiku.
Aku terlalu banyak bermimpi.

Aku mencoba memikirkan ulang apa yang terjadi kemarin. Dan apa yang harus aku lakukan kedepannya. Tentu saja aku harus tetap berjualan gogoso jika memang aku dan ibu masih ingin bertahan hidup. Dan melupakan suatu hal yang muluk tentang cinta, tentang kebahagian jika memiliki seseorang. Aku berusaha menepis angan-angan itu.

***

Sudah 6 bulan. Dan aku masih saja menatap pulau samalona dari pesisir pantai losari. Aku berusaha untuk tidak pergi kesana. Melihat kenanganku dibalik pepohonan warna warni yang tersimpan rapih dipulau itu.

Aku terlalu naif, mempercayai orang kota yang baru aku kenal. Dan yang lebih bodoh, aku menyadari bahwa aku mencintainya! Meski itu rasa yang baru untukku, tapi aku tak mungkin bisa menyangkal. Siluet demi siluet tentang petra aku singkirkan setiap harinya, berusaha untuk tidak memikirkan orang yang hanya dalam sehari dapat merubah hidup dan perasaanku sampai sekarang.

Aku tak berani menceritakan ini kepada ibu. Sudah terlalu banyak beban yang ibu tanggung untuk kehidupanku. Aku tidak mungkin menceritakan hal sepele mengenai kisah cintaku yang singkat di pulau samalona beberapa bulan yang lalu.

Aku mati rasa, mati rasa akan air mata yang hingga kini masih membasahiku setiap malam.

Karena dulu dilangitku gelap, namun ada banyak bintang. Ketika petra melewati langitku bagaikan meteor, langitku terbakar sinarnya, penuh warna, terdapat keindahan. dan ketika meteor itu pergi lalu jatuh diatas cakrawala, semua kembali gelap. aku sudah tidak bisa melihat apapun lagi, karna aku sudah disilaukan oleh cahayanya. Dan tidak ada alasan apapun untuk kembali melihat bintang yang lain.

Aku diam dan menatap ombak yang datang. mengusik ketenangan pasir-pasir lalu pergi, tetapi ombak tak pernah lupa untuk kembali.

“aku punya seribu warna untuk melukiskan tintanya dihatimu, Malaureng.” Aku tertegun mendengar suara itu, mengenal bisiknya yang selama ini aku buang jauh-jauh. Namun aku tidak berani untuk menoleh, itu hanyalah sebuah kenangan dan halusinasi yang terbentuk dari apa yang aku fikirkan.

Aku terdiam, tidak tahan untuk mencari asal suara yang memang benar-benar terdengar nyata. Aku menoleh dan tak seorangpun yang ada dibalk bahuku. Aku menghembuskan nafas kecewa.

“maukah kamu menjadi seorang ibu untuk anak-anak ku kelak ?” seketika aku menoleh kedepan dan melihat petra sedang tertunduk dan mengamati wajahku yang terlihat sangat terkejut. Ini bayangan, tidak mungkin. Aku mematung dan menatap sosok yang sangat mirip dengan petra dihadapanku ini.

“kamu terlalu marah? Hingga tidak mau menjawabnya sama sekali?” dia menyentuh wajahku dengan lembut. Aku menggeleng-gelengkan kepala dan menyadari bahwa ini nyata. Bukan bayanyan, bukan halusinasi belaka. Ini petra, malaikat dengan pesona yang hingga kini masih tidak aku mengerti keindahannya. aku terpaku dimatanya yang kini menatapku, hanya beberapa senti didepan wajahku.

“malaureng?” suaranya terdengar panik dengan diamku yang berkepanjangan. Aku mencoba mengumpulkan detak jantungku yang kini berhamburan.  Seketika aku memeluk tubuh petra. Menghirup aromanya, berusaha mengenali surga apa yang sedang berada didalam pelukku. Dia mengusap rambutku lembut, dan tak henti-hentinya meminta maaf. Aku menarik kepalaku dari dadanya dan kembali menatap wajahnya.

“jadi?” dia menarik sebelah halisnya sambil tersenyum penuh arti.

Aku tersenyum, “ya.” Lalu kembali menariknya dalam dekapan hingga petra tak mungkin lagi pergi, jika tanpa aku.

Sore itu, di pantai losari, telah tercipta surga yang luar biasa indah untukku. Dengan bisik angin yang menyapa kami, seolah mengerti telah adanya janji yang diucapkan antara sepasang insan di kota angin mamiri ini.

Kami, sepasang tangan yang telah terpaut, bukan hanya saling melengkapi, namun juga saling menguatkan antara perbedaan.

Aku menginginkannya, dengan segala keterbatasan yang aku miliki. Aku mengaguminya dengan segala kemampuan. Aku mencintainya, hingga ketika dia tertidur, kelopak matakulah yang tertutup.


End

Surga dipulau Samalona II (sudut pandang petra)


Aku harus kembali kejakarta pagi ini. semua sudah disiapkan oleh teman-temanku. Tetapi aku belum berpamitan dengan malaureng. Aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja setelah kejadian kemarin. 

Pukul 07:30 aku harus berada di bandara internasional sultan hasanudin untuk keberangkatanku ke jakarta. Aku berusaha untuk mencarinya ke pantai losari saat matahari baru terbit. Namun aku sama sekali tidak melihatnya. Alamat rumahnya pun aku tidak tahu. Ini sama saja aku berusaha mencari sebuah jarum ditengah lautan. aku ingin mengatakan sesuatu pada malaureng. Sesuatu yang baru aku rasakan saat bersamanya kemarin. 

Namun sudah tidak ada kesempatan lagi. Aku harus tetap kembali kejakarta pagi ini.
Dibandara  aku berusaha mengenyahkan bayangan bahwa malaureng akan tahu aku disini dan berusaha menyusulku. Seolah-olah kami memiliki ikatan batin yang akan membawanya kesini. Tapi itukan hanya ada disintron-sinetron. Tak mungkin benar-benar terjadi padaku. Dan mungkin sekarang dia membenciku karna pergi tanpa seucap kata sama sekali.

Aku menyukainya, menyukai segala kesederhanaannya yang manis, ketabahannya dalam menjalani hidup. Aku mengagumi senyum khasnya, merindukan ketulusan yang mungkin tak akan aku temui di ibu kota. Tapi sekarang aku harus terbang dan kembali pada rutinitasku. Menyelesaikan skripsiku yang hampir rampung. Berusaha mengejar cita-cita ayah dan ibu. Bukan cita-citaku!

***

Beberapa hari yang lalu aku berbicara dengan ayah dan ibu mengenai hal ini.

“aku ingin tinggal di makassar.” ucapku mantap sambil menatap kedua orang tua yang membesarkanku. Wajah heran tergambar jelas diwajah mereka. Namun tekadku tak mungkin bisa digoyahkan lagi. Ayah dan ibu harus menerima keputusanku.

“apa-apaan? Prospek kerjamu akan jauh lebih bagus disini setelah wisuda nanti. Ayah sudah menyiapkan semuanya. Agar kamu bisa menggantikan posisi ayah kelak!” Ayah meninggikan nada suaranya dengan penekanan yang sengaja ia berikan.

“aku akan tetap tinggal disana, dengan apa yang akan aku bangun sendiri. Usahaku sendiri. Aku akan menetap dan tua dikota kelahiranku!” aku berusaha tidak menatap mata ibu yang hampir menangis. Ibu pindah kesampingku dan merangkulku dengan hangat.

“siapa gadis makassar yang telah membuat anak ibu begitu berani mengambil keputusan?” aku tersentak kaget dengan pertanyaan ibu yang langsung tepat kesasaran. Aku ingin berbohong soal malaureng, tapi ibu akan tetap tahu soal itu.

“namanya malaureng,” aku menjawab lalu menceritakan semuanya dihadapan ayah dan ibu. Aku menceritakan satu hari yang dapat merubah caraku dalam memandang hidup, satu hari yang diberikan malaureng untuk tahu apa itu ketulusan. Ibu hanya tersenyum mendengar seluruh kisahku yang singkat namun dapat membuat aku mencintai gadis itu.

“semoga keputusanmu adalah yang terbaik untuk kamu petra.” Ibu tersenyum dan mengajak ayah untuk pergi dari ruangan itu. Aku lega karna ibu menyetujui keputusanku, dan menyerahkan seluruh pilihanku terhadap perempuan yang telah aku pilih. Karna jika ibu setuju, mau tak mau ayah pasti setuju.

Sekarang aku mencoba konsentrasi dalam menyusun tugas akhirku dengan baik. Hingga dapat menyelesaikan sidang akhir tahun ini. Namun bayangan gadis dari pantai losari itu tak mudah aku singkirkan begitu saja. Aku harus segera menyelesaikan ini dan pergi ke makassar untuk mengungkapkan hal yang tak sempat terucap kala itu. Aku berharap dia tidak terlalu kecewa akan kepergianku beberapa waktu lalu. 

Baca  Surga dipulau Samalona III

Surga dipulau Samalona I


Kakiku sudah lelah menjajakan gogoso disekitar pantai, tapi aku belum bisa mendapatkan hasil apa-apa. Aku malah duduk terdiam di sebuah akar pohon dekat pantai sambil mencoba menghirup aroma air laut yang khas, kota kelahiranku, sumber kehidupanku, pantai losari di kotta makassar.

Ibu terlalu tua untuk bekerja seperti ini, kakinya sudah rapuh dengan segala masalah yang ia tanggung sendiri.  Aku sudah putus sekolah sejak SMP dan berusaha membantu ibu dengan berjualan gogoso* dan bayao kannasa* disekitar pantai losari.

Sudah jam 2 siang tetapi belum ada seorang pun yang membeli daganganku, dahaga sudah menguasai namun aku sama sekali tidak membawa uang.  Aku bangkit dan kembali menjajakan gogoso kepada para turis yang tengah menikmati sinar matahari dan semilir angin di selatan sulawesi.

Matahari mulai menuju arah barat saat aku berhenti di sebuah kelompok wisatawan dari luar kota, yang sepertinya dari jakarta. Mereka memanggilku, dan bertanya apa yang aku jual. Aku menjawabnya dengan ramah agar mereka tertarik untuk membeli.

“30 ribu dapat berapa?” sebuah suara lelaki yang paling dekat denganku bertanya. Aku menghitung jumlah gogoso dan bayao kannasa yang aku bawa.

“semuanya daeng” aku menjawabnya. Dia mengeluarkan selembar uang 50ribu dan memberikannya kepadaku. “semuanya yah.” Senyum terbentuk dibibirnya yang penuh. Aku sempat menyelami senyum tersebut, namun aku segara membungkuskan semua daganganku kedalam plastik.

“tarima kasi.” Aku memberikan senyumku dan lantas pergi dari tempat itu sebelum aku melirik kembali ke wajah itu. 

***

Aku membenamkan diri ke tempat tidur yang tipis dan mencoba melepaskan rasa lelah. Nanti subuh aku harus kembali bangun dan membuat gogoso untuk dijual besok. Aku terbayang wajah ibu ketika aku bilang semua daganganku habis hari ini, meskipun aku tidak bilang siapa yang membelinya. Ibu menerima uang itu dengan syukur yang teramat sangat.

Aku tidak berniat untuk menjual dagangan ku di pantai losari hari ini, karna  bagaimana tidak? Wajah laelaki itu membayangi mimpiku tadi malam. Aku tidak ingin bertemu lagi dengan orang itu. Menurutku, cinta itu tidak mungkin menjamah orang sepertiku, apalagi cinta pada pandagan pertama.

Aku memutuskan untuk ke pulau samalona, pulau disebrang pantai losari yang dapat ditempuh hanya 5 menit bila naik speed. Aku biasa menumpang dengan seorang temanku yang yang biasa menyewakan speed pada turis-turis yang juga ingin pergi ke pulau samalona.

Pulai ini terkenal dengan wisata terumbu karangnya, sehingga banyak turis yang melakukan diving dan snorkeling. Aku mencoba menjajakan dagangan disini karna ini adalah hari minggu, jadi pasti banyak turis yang pergi ke pulau samalona. Dan tentu saja karna satu alasan yang berbeda.

Setelah sampai aku duduk disebuah batu karang yang menjorok kearah laut. Ternyata masih terlalu pagi, pulau ini masih kosong dengan pasir pantai yang berwarna putih gading. Sinar matahari menembus beberapa helai pohon kelapa yang seperti enggan diganggu oleh angin. Aku mengagumi pulau  ini, kota ini, kota yang memberikan aku air untuk hidup, tanah yang aku pijak untuk mengawali hari seperti pagi ini.

Dikejauhan, tampaknya ada satu lagi speed yang menuju ke pulau samalona. Aku berusaha mengamati siluet wajah para wisatawan itu dari sini. Dan tiba-tiba saja mataku terkunci pada satu wajah, aku sadar akan hal itu, tapi bukannya berpaling aku justru menikmati keindahan dari setiap lekukan wajahnya, matanya yang tajam dan menyimpan sesuatu, bibirnya yang tersenyum melihat pemandangan pulau kecil berwarna-warni disebelah barat daya pantai losari ini. aku  mulai mengaguminya dalam diam.

Sebelum kapal itu sampai, aku berbegas bangun dan bersembunyi dibalik sebuah pondok yang menyuguhkan beberapa makanan khas makassar lain. Aku mengamati dia yang tersembunyi oleh beberapa orang temannya. Tiba-tiba saja bibirku membentuk segaris senyuman. Oh Tuhan, apa-apan ini? Aku membalikan badan dan berusaha menenangkan diri. Aku merasa tubuhku lemas dan jantungku seakan ingin melompat keluar untuk mengejar laki-laki itu. Aku rasa memang ada yang salah dengan diriku hari ini.

“mba, gogoso dan telurnya masih ada?” sebuah suara dari balik pundak mengagetkanku, tapi seolah aku sudah merekam setiap frekuensi suaranya, aku tahu siapa yang yang berbicara denganku kali ini. dan aku masih terpaku ketika dia melangkahkan kakinya kehadapanku dan menatapku sambil tersenyum seperti kemarin. Astagaaaaaa, makhluk apa dia? Terlalu indah untuk dikategorikan sebagai manusia, namun terlalu nyata bila dikategorikan sebagai malaikat. Dia melirik kekeranjang yang aku bawa, dan melihat bahwa daganganku masih penuh. Aku kembali tersadar dan berusaha memahami situasi yang tak terduga seperti ini.

“ada daeng,” jawabku gugup. Bodoh sekali, mana pernah aku seperti ini sebelumnya? Aku merasa benar-benar tidak enak badan.

“ayo ikut saya, gogosomu yang kemarin enak sekali. Aku tadi mencari di losari tapi tidak ada yang menjual lagi selain....” dia melihat kearahku seperti menanyakan nama, tapi sebelum menjawab aku masih sempat tenggelam dimatanya yang hitam.

“marauleng.” Aku menjawab pertanyaannya sambil mengikuti arah lelaki itu membawaku. 

“berapa umurmu?” tiba-tiba dia bertanya sambil melangkahkan kakinya diatas pasir pantai.

“19 tahun.” Aku tersenyum menjawab pertanyaannya kali ini. dia terdiam dan menganggukan kepala mendengar jawabanku. Entah apa yang dia pikirkan kali ini tentang umurku. Dia membawaku kesebuah tenda yang penuh sesak dengan teman-temannya seperti kemarin.

“hey, lapar kan ? nih gue bawa penjualnya langsung kesini!” dia sedikit berteriak memanggil teman-temannya. Untuk beberapa saat aku terlalu sibuk memberi beberapa bungkus gogoso dan bayao kannasa, namun dia tetap berada disampingku, tidak pergi.

“kenapa kamu berjualan seperti ini?” dia kembali bertanya setalah semua daganganku habis tak bersisa. Aku menundukan kepala setiap kali mendengarnya. terlalu sering aku dilontarkan pertanyaan seperti ini. dan aku sudah hafal apa yang harus aku jawab.

“ekonomi.” Aku menjawabnya. Dia hanya menatapku diam. Aku tak habis fikir, apa yang dia inginkan? Apakah hidupku penting untuk dia ketahui? Aku memikirkannya terlalu jauh, terlalu berangan-angan. Barang kali dia bertanya karna merasa kasihan padaku, seorang gadis lusuh dari selatan sulawesi. Setiap pagi harus berjalan menjajakan dagangan hanya untuk menghidupi dia dan ibunya.

“ikut aku,” dia menarik tanganku yang masih memegang keranjang. Aku berusaha mengikuti langkahnya dengan gontai. Kepalaku pening karna mendapat sentuhan mendadak dari tangan yang bahkan tidak aku ketahui siapa namanya. Dia berbalik arah, melewati beberapa pondok dan penginapan, dia bergegas mengajakku ke selatan pulau samalona.

Disini, yang terlihat hanyalah batu karang sisa-sisa jaman prasejarah, air laut yang biru, cahaya kekuningan, aku dan dia. Aku berusaha untuk tidak lupa bagaimana caranya menarik nafas, berusaha mengingat bagaimana caranya mengedipkan mata setiap kali bertemu dengan wajahnya yang tegas namun misterius. Dia menyuruhku duduk diatas sebuah perahu nelayan yang sepertinya sudah rusak dimakan waktu. Aku langsung menurut karna tidak mau dia pergi dari sini.

“namaku, Petra.” Aku menoleh kearahnya yang kini sedang menatap laut tak berujung. “aku besar dikota metropolitan yang sesak dengan manusia. Yang penuh dengan aktifitas dan keegoisan. Aku memutuskan untuk berlibur ke makassar karna ini adalah kota kelahiranku.”
Aku berusaha mencari-cari makna dari apa yang telah dia katakan, namun matanya tidak mengisaratkan apapun, terlalu tertutup untuk orang luar sepertiku.

“aku tidak pernah tau kehidupan disini seperti apa, aku selalu diberi kemewahan sejak kecil. Ketika aku betemu kamu kemarin, seorang gadis cantik yang terlihat sangat lelah untuk menjajakan dagangannya pada wisatawan lokal disini, aku mulai mengerti perbedaan. Perbedaan tentang memandang hidup, tentang bagaimana kita berusaha.”

Aku masih terdiam mendengar ceritanya yang panjang. Ungkapan dan tanggapan dirinya tentang diriku, dan apa yang dia dapatkan setelah melihat aku. Aku menarik nafas panjang.

“aku hanya memiliki seorang ibu yang kini sudah tua untuk menafkahiku. Aku tidak ingat bagaimana bahagianya memiliki ayah karna dia meninggalkan aku dan ibu ketika aku masih belum mampu untuk mengucapkan kata ayah. Aku dibesarkan dengan cinta orang tua tunggal, dengan sesuap nasi yang terkadang kurang untuk kami berdua. Yang aku inginkan saat ini hanyalah membuat ibu bahagia”

Semilir angin menjawab diam kami dengan nyaman. Pulau samolo yang indah telah membuka apa yang telah aku pendam selama ini. diam-diam air mataku bergulir. Aku tidak mengerti dengan keadaanku sekarang. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Petra mengusap air mataku.

“aku mengerti sekarang.” Matanya menatapku dengan lekat. Dia beranjak dari tempat duduknya, dan kembali membawaku ke tempat dia mendirikan tenda.
Dipulau ini, pulau samalona, tempat misteri karamnya sejumlah kapal, kini menjadi tempat karamnya sebuah hati gadis lugu suku bugis, hati marauleng.
***
Aku merasa tidak pantas berada disamping teman-teman petra yang berpakaian bagus, trendi, tidak kampungan seperti aku. Namun petra tetap mengajakku untuk snorkeling di pulau ini bersama teman-temannya. Iya telah menyewakan alat-alat snorkeling dan membantuku memasang selang udara dan pelindung mulut. Wajahnya terlalu dekat, hanya beberapa senti dari wajahku yang kini mulai memerah. Aku berusaha untuk menarik nafas panjang agar tidak limbung disaat seperti ini. suara-suara lain selain suaranya hanya menjadi penghias hari itu.

Meskipun aku tinggal dipelataran laut, setiap pagi melihat matahari terbit di ujung pantai dengan segala keindahannya, namun tak pernah sekali pun aku merasakan snorkeling. Karna menyewa alatnya pun aku tak  akan mampu. Masih pukul 9 pagi, cahaya matahari belum berada di puncak peraduannya. Aku melihat laut yang akan aku selami bersama petra. Aku melirik kearahnya dan melihat dia sedang tersenyum. Aku gugup bukan main. Aku takut degub jantungku ini sampai terdengar olehnya.

Dia menyelam terlebih dahulu. Aku ragu-ragu menyambut tangannya yang terulur dari dalam laut. Tapi tentu saja aku memberikan tanganku padanya agar kami dapat menyelam dan melihat biota laut pulau samalona. Didalam sini aku bisa melihat Kapal-kapal yang karam telah berubah wujud menjadi karang dan menjadi 'rumah' bagi ratusan biota laut yang beraneka ragam dan jenis serta warna yang sangat mengagumkan. Keindahan inilah yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk datang berenang di antara bangkai-bangkai kapal karam tersebut. Warna warni didalamnya sangat indah dan membuatku terkagum-kagum, namun keindahan petra dengan rambutnya yang basah tersapu air laut tak akan bisa menandingi keindahan lainnya.

Kami menyelami laut kira-kira 30 menit lalu memutuskan untuk naik kembali ke daratan. Dipulau ini, hanya terdapat 16 kepala keluarga yang menghuni pulau samalona dengan tetap. Namun ada banyak penginapan dan restaurant yang dibangun sebagai fasilitas wisata dari kota makassar. Setelah berganti pakaian aku, petra dan teman-temannya duduk di perkemahan sambil menunggu ikan bakar yang dipesan dari rumah makan yang ada disini.

Kami semua sibuk menikmati hidangan yang ada disini. Teman-teman petra sepertinya tidak peduli dengan adanya aku atau tidak,  lagi pula apa yang bisa aku harapkan dari sekelompok orang kota ini jika bukan petra yang membawaku?
Setelah selesai, aku dan petra duduk berhadapan kearah laut, sambil sesekali tersenyum saling menatap satu sama lain. Pasir pantai pulau samolona yang hangat menjadi sejarah pertemuan kami hari ini. aku sempat memikirkan ibu yang sedang ada dirumah, namun aku memusatkan kembali fikiranku ke pulau seribu warna ini, dengan malaikat yang tengah duduk disampingku. Kami berbincang tentang masa kecilku, tentang aku yang selalu menghabiskan waktu di pantai losari sambil melihat wisatawan asing yang silih berganti. 

Aku menceritakan bahwa aku belum pernah melihat kota lain selain kota makassar, dan belum pernah melihat pantai lain selain pantai losari. Petra pun bercerita tentang kehidupannya yang singkat disini, hanya 3 tahun, dan hanya sedikit yang dapat diingat oleh petra tentang kota ini. Orang tuanya selalu memberikan apa yang dia butuhkan, namun tak pernah memberikan dia kasih sayang semenjak mereka tinggal di jakarta. Lalu petra bercerita bahwa dia memiliki keinginan untuk menikah di kota kelahirannya.

Aku semerta-merta menahan hatiku agar tidak terasa sakit mendengarnya. Aku berfikir bahwa mungkin petra sudah memiliki calon istri yang sepadan dengannya. Yang bisa ia bawa kesini lalu dinikahinya. Lagi pula, siapa aku? berani-beraninya berharap bahwa petra kelak akan menjadi seseorang bagi ku. Kalaupun itu terjadi, mungkin hubungan itu takkan pernah seimbang. Aku, gadis yang terbuang, bahkan oleh ayahku sendiri. Aku, gadis dari selatan pulau sulawesi yang tak mengerti kehidupan diluar selain kehidupanku yang menjual gogoso setiap harinya. Mana mungkin dapat disejajarkan oleh petra?

Aku menyadari semua itu, namun tak mengurangi apa yang aku rasakan saat ini padanya.

Air laut yang menari dipermainkan ombak, semakin sore seperti asyik merayapi batu karang yang membentuk fatamorgana silau disirami sinar matahari yang mulai menguning. Aku tidak mengerti dimensi waktu saat bersama petra, semua menjadi terlalu cepat tanpa benar-benar kita sadari.

Dan celah-celah awan yang putih. Terpancar cahaya terang dari sang matahari yang mulai turun. Mengintipku yang mulai diam menatap sinarnya dengan ragu. Seolah ingin mengkristalkan waktu. Agar tidak terucap satu kata perpisahan hari ini.
Pualu samalona yang berwarna warni mulai terlihat gelap seiring dengan terbenamnya sang surya.

Petra melihat kearahku. “kau melihat ini setiap hari?” tanyanya sambil kemballi menatap matahari diujung lautan.

“ya, hampir setiap sore.” Aku menjawabnya sembari tersenyum. Langit menyapaku lebih dari biasanya. Seolah mengerti suasa hatiku saat ini. ombak dari pantai losari menyapu kaki kami dengan lembut.

“aku mencintai kota ini, dan aku berjanji suatu saat nanti akan kembali lagi untuk memeluk tanah makassar ini bersama seseorang.” suaranya yang beriringan dengan angin sore mengahangatkan hatiku.

“jangan pernah berjanji untuk hal yang sulit kamu tepati” aku berbalik badan dan meninggalkan petra yang masih tertegun oleh perkataanku.
Hari ini, di pulau yang hanya seluas 2 hektar, aku mengerti apa itu cinta. Namun disaat bersamaan, aku juga mengerti apa itu kenyataan.


 Baca Surga dipulau Samalona II (sudut pandang petra)