Hari ini, seolah tidak pernah
merasakan apa itu artinya sebuah luka. Aku memegang dada ini dengan erat,
menahan isak diantara bantal-bantal yang berserakan disekitarku. Luka dan rasa
sakit yang pernah aku rasakan tidak akan pernah sebanding dengan kali ini. Air mata
ini seolah tertumpah begitu saja tanpa aku sanggup mencegahnya. Pedih menyusup
ke sendi-sendi tulangku tanpa ampun.
Ketika kamu mencintai seseorang, rasa
sakit adalah resiko yang harus kita terima ketika kita kehilangan orang itu. Tapi
kadang, rasa sakit akan lebih terasa membunuh saat kita kehilangan perasaannya,
dan akan lebih melegakan ketika kita tau kita tidak mungkin bersama namun
perasaannya masih tetap utuh. Tapi ternyata hal itu tidak seberapa dengan apa
yang aku rasakan kali ini, aku menelan pahit yang lebih menyakitkan ketika seseorang
yang aku jaga hatinya selama ini berbalik kearah yang bersebrangan denganku,
ketika kebencian yang memancar disetiap aliran darahnya ditujukan kepadaku. Ini
sulit.. seketika saja nafasku mulai kehilangan arah,
Aku bukan saja kehilangan dia,
aku juga telah kehilangan perasaannya, hatinya, dan tanpa sengaja menanamkan
duri karna telah menyakitinya. Tuhan tau siapa yang aku cintai, Tuhan tau aku
tidak pernah bermaksud membuatnya terluka. Kebenciannya merupakan hal terakhir
yang aku inginkan didunia ini. Ku titipkan hatiku di setiap deru nafasnya, aku
lantunkan kasih ini menjadi nada disetiap suaranya. Tapi apa yang aku dapatkan
sekarang ? aku kehilanga nafasnya, aku kehilangan suaranya, karna kebenciannya
yang tertumpah ruah membuat bernafas dan berbicara adalah hal yang tidak akan
pernah dia lakukakan lagi.
Aku seperti sampah yang akan dia
hindari dimanapun dia berpijak. Seolah cinta yang dia agungkan selama ini
terpendam masuk kedalam jurang. Aku tak sanggup melihatnya melakukan ini. Melihat
dia berusaha membuang semua serpihan cerita. Sakitnya adalah sakitku, namun
membayangkan dia berada disisi orang lain saja membuat aku terjerembab. Lalu rasa
sakit apa yang ada dan bersemayam disini? Menghabisi sel-sel tubuhku dengan
cepat. Rasa pedih lainnya masih mampu aku atasi, namun aku baru saja menemukan
kepedihan baru yang lebih menyakitkan.
Aku tidak akan mampu melihat
orang lain selain dirinya, aku tidak akan mampu menyebut nama lain selain
namanya, aku tidak mampu mendengar bisikan lain selain bisikannya. Aku tahu dia
mencintaiku, sebesar rasa benci yang sekarang tumbuh dihatinya. Aku tidak bisa
mengobati perih ini, aku hanya bisa menahannya agar tidak membakar habis sel
yang berada dalam hati dan tubuhku. Dan meyakini, hanya akulah tempat dia
kembali…
Jakarta, 5 november 2013
Dari setetes embun yang
membutuhkan tempat untuk berpijak.
Nb : aku masih berharap bahwa 3
hari setelah hari ini, keadaan akan berubah :)
No comments:
Post a Comment