Sunday, August 25, 2013

Kepedihan



Aku masih saja tidak bosan menulis tentang cinta. Menurutku cinta memiliki teka-teki tersendiri yang setiap orang juga memiliki kunci jawaban yang berbeda. Dan tentu saja jika kita berbicara tentang cinta tidak mungkin terlepas dengan sesuatu yang bernama rasa sakit. Terkadang untuk mencintai seseorang, tanpa kita sadari kita menyakiti seseorang yang telah mencintai salah satunya secara diam-diam. Atau kita menyakiti diri sendiri dengan mencintai seseorang yang sudah mencintai orang lain. Ada pula yang terlibat dengan rasa sakit karna mencintai orang yang seharusnya tidak dia cintai karna berbatas perbedaan. Semua rasa sakit itu memiliki deskripsi yang sulit untuk dimengerti, bahkan oleh yang mengalami rasa sakit itu sendiri.

Kali ini aku mendengar lagi salah satu temanku yang masih saja tenggelam dengan rasa sakit karna masa lalu. Terdengar klise, namun aku tahu itu rumit. Berusaha menelan rasa sakit karna perpisahan itu bukan hal yang mudah. Tidak seperti omongan-omongan orang yang bicara “tidak perlu memikirkan orang yang tidak memikirkanmu” atau “cara terbaik melupakan seseorang adalah menemukan orang yang baru” mudah untuk dipahami, tapi apakah semudah itu menjalaninya? Semudah itukah tidak memikirkan seseorang yang sekian lama menjadi topic penting dalam percakapnnya dengan Tuhan, atau semudah itukah jatuh cinta dengan orang lain ketika hati kita sendiri belum sepenuhnya dapat menertawakan luka bekas ditinggalkan.

Setidaknya aku berusaha menjadi pendengar yang baik, berusaha memahami apa yang terjadi dengan  rasa sakit yang bukan miliku. Temanku masih menangis karna dia telah berusaha mencari orang yang dapat memperbaiki kerusakan dalam hatinya, menata hatinya yang telah lebih dulu ditinggalkan secara tiba-tiba, meskipun dia sendiri tahu, rasanya tidak mungkin. Seolah-olah hatinya adalah rumah yang telah ditinggali dan pemiliknya pergi dengan membawa kunci dan seluruh isinya. Rumah itu menjadi berdebu, usang, ditinggalkan secara paksa. Dan  seberapa kuat orang lain berusaha membenahi rumah itu, mereka hanya bisa membenahi bagian luarnya, merapihkan serpihan-serpihan yang tersebar berantakan dihalamannya, tanpa benar-benar bisa menyentuh bagian dalamnya, memperbaiki kerusakannya, yang masih saja berdebu daan usang, tidak bisa ditinggali siapapun karna kunci rumah itu hilang bersama kehangatan pemilik sebelumnyya. Maka seperti itulah hatinya, tidak akan pernah kembali utuh seperti semula.

Dia telah berusaha mencintai orang lain, dan mengelabui dirinya sendiri bahwa dia telah melupakan bayangan yang masih melekat erat dibelakang tubuhnya. Berusaha menertawai kebodohan karna telah mencintai orang yang salah, berusaha tersenyum dihadapan seseorang yang telah berusaha memperbaiki kerusakan dihatinya, dan tanpa sadar dia yang telah membuat kerusakan dihati orang itu karna tidak pernah benar-benar mencintai. Karna semakin kuat kita ingin melupakan, maka semakin kuat ingatan memutar kembali semua kenangan.

Aku masih berusaha memahami dan menerka apa yang akan terjadi pada temanku, mungkin suatu saat nanti, setelah bertahun-tahun menelan telak rasa kehilangan dan ditinggalkan, dia bisa kembali memliiki alasan untuk tersenyum dan menyapa manis kenangannya yang lalu, tanpa mengenali lagi rasa kepedihan yang menjalar disekujur aliran darahnya. Atau mungkin, setelah sekian lama, dia akan tetap berteman baik dengan kesedihan, dan lukanya menjadi permanen dan tidak bisa diperbaiki, lubang dihatinya akan terus terbuka dan meneteskan kepedihan. Namun aku sendiri yakin, dia telah memilih jalannya sendiri untuk semakin kuat menahan rasa sakitnya. Entah dengan cara melupakan, atau memeluk erat kenangan.

No comments:

Post a Comment