Aku masih saja tidak bosan menulis tentang cinta. Menurutku
cinta memiliki teka-teki tersendiri yang setiap orang juga memiliki kunci
jawaban yang berbeda. Dan tentu saja jika kita berbicara tentang cinta tidak
mungkin terlepas dengan sesuatu yang bernama rasa sakit. Terkadang untuk
mencintai seseorang, tanpa kita sadari kita menyakiti seseorang yang telah
mencintai salah satunya secara diam-diam. Atau kita menyakiti diri sendiri dengan
mencintai seseorang yang sudah mencintai orang lain. Ada pula yang terlibat
dengan rasa sakit karna mencintai orang yang seharusnya tidak dia cintai karna
berbatas perbedaan. Semua rasa sakit itu memiliki deskripsi yang sulit untuk
dimengerti, bahkan oleh yang mengalami rasa sakit itu sendiri.
Kali ini aku mendengar lagi salah satu temanku yang masih
saja tenggelam dengan rasa sakit karna masa lalu. Terdengar klise, namun aku
tahu itu rumit. Berusaha menelan rasa sakit karna perpisahan itu bukan hal yang
mudah. Tidak seperti omongan-omongan orang yang bicara “tidak perlu memikirkan
orang yang tidak memikirkanmu” atau “cara terbaik melupakan seseorang adalah
menemukan orang yang baru” mudah untuk dipahami, tapi apakah semudah itu
menjalaninya? Semudah itukah tidak memikirkan seseorang yang sekian lama
menjadi topic penting dalam percakapnnya dengan Tuhan, atau semudah itukah
jatuh cinta dengan orang lain ketika hati kita sendiri belum sepenuhnya dapat
menertawakan luka bekas ditinggalkan.
Setidaknya aku berusaha menjadi pendengar yang baik, berusaha
memahami apa yang terjadi dengan rasa
sakit yang bukan miliku. Temanku masih menangis karna dia telah berusaha
mencari orang yang dapat memperbaiki kerusakan dalam hatinya, menata hatinya
yang telah lebih dulu ditinggalkan secara tiba-tiba, meskipun dia sendiri tahu,
rasanya tidak mungkin. Seolah-olah hatinya adalah rumah yang telah ditinggali
dan pemiliknya pergi dengan membawa kunci dan seluruh isinya. Rumah itu menjadi
berdebu, usang, ditinggalkan secara paksa. Dan seberapa kuat orang lain berusaha membenahi
rumah itu, mereka hanya bisa membenahi bagian luarnya, merapihkan
serpihan-serpihan yang tersebar berantakan dihalamannya, tanpa benar-benar bisa
menyentuh bagian dalamnya, memperbaiki kerusakannya, yang masih saja berdebu
daan usang, tidak bisa ditinggali siapapun karna kunci rumah itu hilang bersama
kehangatan pemilik sebelumnyya. Maka seperti itulah hatinya, tidak akan pernah
kembali utuh seperti semula.
Dia telah berusaha mencintai orang lain, dan mengelabui
dirinya sendiri bahwa dia telah melupakan bayangan yang masih melekat erat
dibelakang tubuhnya. Berusaha menertawai kebodohan karna telah mencintai orang
yang salah, berusaha tersenyum dihadapan seseorang yang telah berusaha
memperbaiki kerusakan dihatinya, dan tanpa sadar dia yang telah membuat
kerusakan dihati orang itu karna tidak pernah benar-benar mencintai. Karna
semakin kuat kita ingin melupakan, maka semakin kuat ingatan memutar kembali
semua kenangan.
Aku masih berusaha memahami dan menerka apa yang akan terjadi
pada temanku, mungkin suatu saat nanti, setelah bertahun-tahun menelan telak
rasa kehilangan dan ditinggalkan, dia bisa kembali memliiki alasan untuk
tersenyum dan menyapa manis kenangannya yang lalu, tanpa mengenali lagi rasa
kepedihan yang menjalar disekujur aliran darahnya. Atau mungkin, setelah sekian
lama, dia akan tetap berteman baik dengan kesedihan, dan lukanya menjadi
permanen dan tidak bisa diperbaiki, lubang dihatinya akan terus terbuka dan
meneteskan kepedihan. Namun aku sendiri yakin, dia telah memilih jalannya
sendiri untuk semakin kuat menahan rasa sakitnya. Entah dengan cara melupakan,
atau memeluk erat kenangan.
No comments:
Post a Comment