Dalam keadaan normal mungkin aku
tidak akan pernah memikirkan keputusan seperti ini, tapi ya Tuhan perasaan apa
ini? Yang telah melumpuhkan segala akal sehatku. Namun ketika aku tahu semua
ini salah, aku bukannya segera menyadarinya dan bergerak mundur, justru malah
menikmati keselahan terindahan ini.
Hari ini sekian kalinya dia
menghabiskan waktu denganku, yang notabenenya tidak memiliki status apapun
dengannya. Dia justru meninggalkan kekasihnya dan memilih untuk mengobrol di
teras rumahku yang sambil sesekali tertawa renyah karna canda yang aku buat
sendiri. Terkadang aku menyadari ada beberapa tingkahku yang sangat diluar
kewajaran ketika bersamanya, aku lebih menjadi diri sendiri ketika berada
disampingnya ketimbang bersama lelaki yang pernah menjalin hubungan resmi denganku.
Tapi dengannya? Tak pernah ada kejelasan, namun aroma tubuh dan senyuman yang
kerap kali kulihat adalah alasan utama mengapa jantung ini sering memberontak
tidak karuan.
Aku melihat dia berkali-kali
mengabaikan panggilan diponselnya, aku tidak pernah tahu siapa yang
menghubunginya. Dan aku juga tidak pernah berususah payah untuk bertanya,
lagipula siapa aku? Tapi dengan sikapnya yang enggan menjawan telpon, dadaku
diselimuti perasaan hangat, seolah dia benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan
waktu bersamaku.
Aku sering bertanya-tanya, apakah
dia memiliki getaran itu? Getaran yang memicu seluruh organ tubuhku memanas
hanya karna melihat dia dari kejauhan. Aku terlalu naif memang, seolah dia bisa
jatuh cinta pada wanita biasa yang bahkan takkan pernah dapat mengalahkan
kecantikan kekasihnya. Jadi siapa aku dimatanya? Pertanyaan itu menguasai
fikiranku tanpa ampun, seolah ada bom waktu yang akan meledak sebelum
pertanyaan itu terjawab. Dan sepertinya memang tidak akan pernah terjawab.
Aku kerap di persalahkan oleh
sahabat terdekatku atas keputusanku yang memilih untuk tidak menjauh darinya.
Dan seolah aku bisa melakukan itu, baru membayangkannya saja dadaku terasa
perih. Aku tahu perasaan ini sudah terlalu jauh dari yang bisa aku bayangkan sebelumnya,
tapi aku menikmati setiap detik bersamanya. Jadi apakah aku salah untuk
mempertahankan seseorang yang telah membuatku memiliki alasan untuk tersenyum?
Aku memang tidak terlalu mengenal
kekasihnya, kekasih bima, dan aku memutuskan untuk tidak mengetahuinya, aku
takut didera perasaan bersalah karena telah menghabiskan banyak waktu dengan
pria yang telah memiliki seseorang. tapi apa aku bisa menghindar? Jawabannya
adalah tidak! Aku tahu bima mencintai kekasihnya, tapi aku juga tahu bahwa dia
menyayangiku. Namun satu hal yang pasti, aku tidak pernah tahu siapa yang akan
akan dipilihnya ketika dia dipaksa untuk benar-benar memilih.
Senyumnya sore itu mengalahkan
keindahan pelangi yang tergurat jelas diufuk barat, turun bersama matahari
yang telah lelah. Aku tidak pernah berhenti mengaguminya, dan aku tidak habis
pikir bahwa dia juga sepertinya merasakan hal yang sama padaku. Melambungkan
harapanku jauh, aku merasa seolah-olah dia membutuhkanku. Tapi aku tidak mau
berspekulasi terlalu jauh, toh dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya
secara gamblang dihadapanku, meskipun dia sering menggenggam tanganku dengan
hangat. Meskipun dia sering melakukan hal kecil yang menurutku menjelaskan
perasaannya. Tapi aku tidak pernah tau apa yang dirasakannya terhadapku.
Lalu setiap kali membayangkan dia
melakukan hal yang sama dengan kekasihnya, atau bisa jadi lebih romantis
dibandingkan dengan yang dia lakukan terhadapku. Rasanya sama saja seperti
memasukan hatimu kedalam air yang terlalu dingin, membuat kamu mati rasa. Dan membayangkan ada seseorang yang berada terlalu
dekat dengannya, dapat merengkuhnya tanpa takut melukai perasaan orang lain,
sedangkan aku? tidak akan pernah bisa menggapai posisi seperti itu. Miris.
Cinta memang memilih, dan aku telah
menjatuhkan pilihanku kepada seseorang yang masih sangat abu-abu, berada
dipersimpangan antara hitam dan putih. Aku tidak akan pernah memaksanya untuk
meninggalkan kekasihnya, namun aku dengan lancang mengharapkan dia pergi
meninggalkan masa lalunya untuk mendekap masa depan denganku. Lalu seketika
pertanyaan yang sama itu muncul dan mengantamku dengan keras pada kenyataan.
Memangnya aku ini siapa?
No comments:
Post a Comment