Dalam gurat senyum aku tergugu oleh
keraguan yang kian lama kian membeku. Melumpuhkan seluruh sarafku hingga aku
merasa kebas dan ingin mengenyahkan perasaan ngilu yang mungkin aku sendiri
tidak sanggup membayangkannya. Aku tingkapkan perasaan dingin yang memelukku
terlalu erat, lalu berlarian wajah sang pelaku keraguan. Dia.
Harusnya dengan mudah aku pergi
dari perasaan berharap yang semakin lama mencekikku. Harusnya pelangi telah
muncul ketika hujan itu berlari menjauh. Lalu muncul matahari yang merengkuhku
erat dalam hangat. Tapi tidak, nafasku sudah tercekat oleh kehampaan yang dia
buat.
Dan bayangkan, ketika kau
diharuskan memilih antara nafasmu atau cahayamu. Apakah kau sanggup kehilangan
salah satunya untuk mendapakan hal yang satunya dengan utuh? Atau sanggupkah
kau menarik nafas tanpa cahaya ? atau bisakah kau berjalan lurus menuju cahaya
tanpa bernafas. pertanyaan yang menusuk hingga keselubung tulangku, yang ketika
aku menjawabnya aku akan kehilangan sebagian organ tubuhku dan berjalan dengan
timpang. Entah kearah mana aku akan akan berlabuh.
Disaat yang bersamaan hujan akan
tertawa melihat aku tersenyum ketika merasakan sebuah cahaya pribadiku
mendekat. Menertawakan air mata yang tumpah saat aku lupa menarik nafas. Dan
sadar bahwa aku masih membutuhkan nafasku yang selama ini bersemayam jauh, jauh
sebelum cahaya itu menghangatkan kehampaan yang dibuat oleh udara dingin yang
menusukku karena nya.
Jadi kemana aku harus meraba jalan
yang semakin buram. Tak bisakah hatiku merasakan sesuatu yang normal tanpa
perlu aku menguras hati dan fikiranku, tak bisakah Tuhan menunjukan saja siapa
yang kelak akan berada seutuhnya disisiku. Hingga aku tidak perlu meraksan
sakit yang semestinya tidak aku peluk erat seperti ini. Rasanya aku terlalu
akrab dengan perasaan yang selalu saja melumpuhkan ketidak mampuanku untuk
menentukan pilihan sesulit ini. Antara nafasku dan cahaya hangatku. Antara
langit dan percikan air dalam aliran tubuhku.
Jadi untuk siapa aku tersenyum kali
ini? Karna nafasku datang ketika aku telah memiliki cahaya, memberi lagi aku
udara yang dulu selalu dibawa bersamanya pergi. Dan cahayaku semakin hangat
menarikku ke pusaran, membuat aku kecanduan akan hadirnya.
Tuhan, tak bisakah kau buat aku
tersenyum dan hadirkan bayangan siapa yang kau pilihkan untuk kusimpulkan
benang dan goresan tinta tulusku?
No comments:
Post a Comment