Thursday, September 12, 2013

Tergugu dalam ragu



Dalam gurat senyum aku tergugu oleh keraguan yang kian lama kian membeku. Melumpuhkan seluruh sarafku hingga aku merasa kebas dan ingin mengenyahkan perasaan ngilu yang mungkin aku sendiri tidak sanggup membayangkannya. Aku tingkapkan perasaan dingin yang memelukku terlalu erat, lalu berlarian wajah sang pelaku keraguan. Dia.

Harusnya dengan mudah aku pergi dari perasaan berharap yang semakin lama mencekikku. Harusnya pelangi telah muncul ketika hujan itu berlari menjauh. Lalu muncul matahari yang merengkuhku erat dalam hangat. Tapi tidak, nafasku sudah tercekat oleh kehampaan yang dia buat.

Dan bayangkan, ketika kau diharuskan memilih antara nafasmu atau cahayamu. Apakah kau sanggup kehilangan salah satunya untuk mendapakan hal yang satunya dengan utuh? Atau sanggupkah kau menarik nafas tanpa cahaya ? atau bisakah kau berjalan lurus menuju cahaya tanpa bernafas. pertanyaan yang menusuk hingga keselubung tulangku, yang ketika aku menjawabnya aku akan kehilangan sebagian organ tubuhku dan berjalan dengan timpang. Entah kearah mana aku akan akan berlabuh.

Disaat yang bersamaan hujan akan tertawa melihat aku tersenyum ketika merasakan sebuah cahaya pribadiku mendekat. Menertawakan air mata yang tumpah saat aku lupa menarik nafas. Dan sadar bahwa aku masih membutuhkan nafasku yang selama ini bersemayam jauh, jauh sebelum cahaya itu menghangatkan kehampaan yang dibuat oleh udara dingin yang menusukku karena nya.

Jadi kemana aku harus meraba jalan yang semakin buram. Tak bisakah hatiku merasakan sesuatu yang normal tanpa perlu aku menguras hati dan fikiranku, tak bisakah Tuhan menunjukan saja siapa yang kelak akan berada seutuhnya disisiku. Hingga aku tidak perlu meraksan sakit yang semestinya tidak aku peluk erat seperti ini. Rasanya aku terlalu akrab dengan perasaan yang selalu saja melumpuhkan ketidak mampuanku untuk menentukan pilihan sesulit ini. Antara nafasku dan cahaya hangatku. Antara langit dan percikan air dalam aliran tubuhku.

Jadi untuk siapa aku tersenyum kali ini? Karna nafasku datang ketika aku telah memiliki cahaya, memberi lagi aku udara yang dulu selalu dibawa bersamanya pergi. Dan cahayaku semakin hangat menarikku ke pusaran, membuat aku kecanduan akan hadirnya.

Tuhan, tak bisakah kau buat aku tersenyum dan hadirkan bayangan siapa yang kau pilihkan untuk kusimpulkan benang dan goresan tinta tulusku?

No comments:

Post a Comment