Aku harus kembali kejakarta pagi ini. semua sudah disiapkan
oleh teman-temanku. Tetapi aku belum berpamitan dengan malaureng. Aku tak
mungkin meninggalkannya begitu saja setelah kejadian kemarin.
Pukul 07:30 aku harus berada di bandara internasional sultan
hasanudin untuk keberangkatanku ke jakarta. Aku berusaha untuk mencarinya ke
pantai losari saat matahari baru terbit. Namun aku sama sekali tidak
melihatnya. Alamat rumahnya pun aku tidak tahu. Ini sama saja aku berusaha
mencari sebuah jarum ditengah lautan. aku ingin mengatakan sesuatu pada malaureng. Sesuatu yang
baru aku rasakan saat bersamanya kemarin.
Namun sudah tidak ada kesempatan lagi.
Aku harus tetap kembali kejakarta pagi ini.
Dibandara aku berusaha
mengenyahkan bayangan bahwa malaureng akan tahu aku disini dan berusaha
menyusulku. Seolah-olah kami memiliki ikatan batin yang akan membawanya kesini.
Tapi itukan hanya ada disintron-sinetron. Tak mungkin benar-benar terjadi
padaku. Dan mungkin sekarang dia membenciku karna pergi tanpa seucap kata sama
sekali.
Aku menyukainya, menyukai segala kesederhanaannya yang manis,
ketabahannya dalam menjalani hidup. Aku mengagumi senyum khasnya, merindukan
ketulusan yang mungkin tak akan aku temui di ibu kota. Tapi sekarang aku harus terbang dan kembali pada rutinitasku.
Menyelesaikan skripsiku yang hampir rampung. Berusaha mengejar cita-cita ayah
dan ibu. Bukan cita-citaku!
***
Beberapa hari yang lalu aku berbicara dengan ayah dan ibu
mengenai hal ini.
“aku ingin tinggal di makassar.” ucapku mantap sambil menatap
kedua orang tua yang membesarkanku. Wajah heran tergambar jelas diwajah mereka.
Namun tekadku tak mungkin bisa digoyahkan lagi. Ayah dan ibu harus menerima
keputusanku.
“apa-apaan? Prospek kerjamu akan jauh lebih bagus disini
setelah wisuda nanti. Ayah sudah menyiapkan semuanya. Agar kamu bisa
menggantikan posisi ayah kelak!” Ayah meninggikan nada suaranya dengan
penekanan yang sengaja ia berikan.
“aku akan tetap tinggal disana, dengan apa yang akan aku
bangun sendiri. Usahaku sendiri. Aku akan menetap dan tua dikota kelahiranku!”
aku berusaha tidak menatap mata ibu yang hampir menangis. Ibu pindah
kesampingku dan merangkulku dengan hangat.
“siapa gadis makassar yang telah membuat anak ibu begitu
berani mengambil keputusan?” aku tersentak kaget dengan pertanyaan ibu yang
langsung tepat kesasaran. Aku ingin berbohong soal malaureng, tapi ibu akan
tetap tahu soal itu.
“namanya malaureng,” aku menjawab lalu menceritakan semuanya
dihadapan ayah dan ibu. Aku menceritakan satu hari yang dapat merubah caraku
dalam memandang hidup, satu hari yang diberikan malaureng untuk tahu apa itu
ketulusan. Ibu hanya tersenyum mendengar seluruh kisahku yang singkat namun
dapat membuat aku mencintai gadis itu.
“semoga keputusanmu adalah yang terbaik untuk kamu petra.”
Ibu tersenyum dan mengajak ayah untuk pergi dari ruangan itu. Aku lega karna ibu menyetujui keputusanku, dan menyerahkan
seluruh pilihanku terhadap perempuan yang telah aku pilih. Karna jika ibu
setuju, mau tak mau ayah pasti setuju.
Sekarang aku mencoba konsentrasi dalam menyusun tugas akhirku
dengan baik. Hingga dapat menyelesaikan sidang akhir tahun ini. Namun bayangan
gadis dari pantai losari itu tak mudah aku singkirkan begitu saja. Aku harus
segera menyelesaikan ini dan pergi ke makassar untuk mengungkapkan hal yang tak
sempat terucap kala itu. Aku berharap dia tidak terlalu kecewa akan kepergianku
beberapa waktu lalu.
Baca Surga dipulau Samalona III
No comments:
Post a Comment