Saturday, December 29, 2012

Surga dipulau Samalona II (sudut pandang petra)


Aku harus kembali kejakarta pagi ini. semua sudah disiapkan oleh teman-temanku. Tetapi aku belum berpamitan dengan malaureng. Aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja setelah kejadian kemarin. 

Pukul 07:30 aku harus berada di bandara internasional sultan hasanudin untuk keberangkatanku ke jakarta. Aku berusaha untuk mencarinya ke pantai losari saat matahari baru terbit. Namun aku sama sekali tidak melihatnya. Alamat rumahnya pun aku tidak tahu. Ini sama saja aku berusaha mencari sebuah jarum ditengah lautan. aku ingin mengatakan sesuatu pada malaureng. Sesuatu yang baru aku rasakan saat bersamanya kemarin. 

Namun sudah tidak ada kesempatan lagi. Aku harus tetap kembali kejakarta pagi ini.
Dibandara  aku berusaha mengenyahkan bayangan bahwa malaureng akan tahu aku disini dan berusaha menyusulku. Seolah-olah kami memiliki ikatan batin yang akan membawanya kesini. Tapi itukan hanya ada disintron-sinetron. Tak mungkin benar-benar terjadi padaku. Dan mungkin sekarang dia membenciku karna pergi tanpa seucap kata sama sekali.

Aku menyukainya, menyukai segala kesederhanaannya yang manis, ketabahannya dalam menjalani hidup. Aku mengagumi senyum khasnya, merindukan ketulusan yang mungkin tak akan aku temui di ibu kota. Tapi sekarang aku harus terbang dan kembali pada rutinitasku. Menyelesaikan skripsiku yang hampir rampung. Berusaha mengejar cita-cita ayah dan ibu. Bukan cita-citaku!

***

Beberapa hari yang lalu aku berbicara dengan ayah dan ibu mengenai hal ini.

“aku ingin tinggal di makassar.” ucapku mantap sambil menatap kedua orang tua yang membesarkanku. Wajah heran tergambar jelas diwajah mereka. Namun tekadku tak mungkin bisa digoyahkan lagi. Ayah dan ibu harus menerima keputusanku.

“apa-apaan? Prospek kerjamu akan jauh lebih bagus disini setelah wisuda nanti. Ayah sudah menyiapkan semuanya. Agar kamu bisa menggantikan posisi ayah kelak!” Ayah meninggikan nada suaranya dengan penekanan yang sengaja ia berikan.

“aku akan tetap tinggal disana, dengan apa yang akan aku bangun sendiri. Usahaku sendiri. Aku akan menetap dan tua dikota kelahiranku!” aku berusaha tidak menatap mata ibu yang hampir menangis. Ibu pindah kesampingku dan merangkulku dengan hangat.

“siapa gadis makassar yang telah membuat anak ibu begitu berani mengambil keputusan?” aku tersentak kaget dengan pertanyaan ibu yang langsung tepat kesasaran. Aku ingin berbohong soal malaureng, tapi ibu akan tetap tahu soal itu.

“namanya malaureng,” aku menjawab lalu menceritakan semuanya dihadapan ayah dan ibu. Aku menceritakan satu hari yang dapat merubah caraku dalam memandang hidup, satu hari yang diberikan malaureng untuk tahu apa itu ketulusan. Ibu hanya tersenyum mendengar seluruh kisahku yang singkat namun dapat membuat aku mencintai gadis itu.

“semoga keputusanmu adalah yang terbaik untuk kamu petra.” Ibu tersenyum dan mengajak ayah untuk pergi dari ruangan itu. Aku lega karna ibu menyetujui keputusanku, dan menyerahkan seluruh pilihanku terhadap perempuan yang telah aku pilih. Karna jika ibu setuju, mau tak mau ayah pasti setuju.

Sekarang aku mencoba konsentrasi dalam menyusun tugas akhirku dengan baik. Hingga dapat menyelesaikan sidang akhir tahun ini. Namun bayangan gadis dari pantai losari itu tak mudah aku singkirkan begitu saja. Aku harus segera menyelesaikan ini dan pergi ke makassar untuk mengungkapkan hal yang tak sempat terucap kala itu. Aku berharap dia tidak terlalu kecewa akan kepergianku beberapa waktu lalu. 

Baca  Surga dipulau Samalona III

No comments:

Post a Comment