Sore itu masih terasa sesak. Entah udara yang panas begitu mendominasi
atau perasaan hati yang masih tak jelas. "Kita sudah tidak cocok lagi."
Kalimat itu masih berputar-putar dikepalaku sampai aku sendiri pun tak
tahu apa maknanya.
Apa ada yang salah dari hubungan ini? Tidak cocok? Apanya? Pertanyaan
yang masih ingin ku tanyakan pada beni saat dia memutuskan untuk
meninggalkan ku seorang diri ditengan ramainya sebuah caffe.
Semua orang disekitarku masih berbincang, tertawa, menjalani aktifitas
mereka seperti biasa. Tanpa tahu apa yang baru saja Beni katakan, lima
kata yang diakhiri sebuah kecupan dikeningku, lalu ia berlalu.
Tidak cocok ? Apa yang mendasari sebuah ketidak cocokan itu hadir? Bukankah dulu semua baik-baik saja?
Satu, dua, tiga tetes air mata jatuh. Inikah cinta yang dulu kita
perjuangkan? Kenangan demi kenangan berjalan diotakku begai siluet yang
tak mungkin aku sangkal. Yang aku tahu cinta itu menyatukan dua sisi
yang berbeda hingga dapat menjadi satu. Perbedaan pendapat, selera,
pertengkaran, bukankah itu warna yang harusnya dapet kita sisihkan?
Kita sudah tidak cocok. Atau mungkin lebih tepatnya dia yang merasa
sudah tidak cocok. beni memutuskan untuk mencari orang yang lebih tepat
dengannya dibandingkan aku. Mungkin dia sudah merasa tak nyaman menjadi
orang yang ku titipkan sebongkah hati, maka ia kembalikan hatiku dengan
goresan yang tampak dan terlalu besar untuk disembunyikan.
Seharusnya aku tidak bertanya mengapa dia melakukan ini, tetapi apa yang
belum aku lakukan untuk dirinya hingga membuat dia melakukan ini.
Terkadang cinta memaksa kita untuk belajar memahami. Meskipun dengan luka.
No comments:
Post a Comment