juara 2 lomba menulis cerpen se-jabodetabek di ajang festival dwiwarna 2013 :)
Dulu presepsiku tentang Tuhan berubah. Dia yang katanya adalah sebuah harapan, masih saja belum menjamahku. Dia yang katanya maha pemberi, masih saja belum dapat aku rasakan. Tuhan hanyalah angan, yang sengaja dibuat agar setiap manusia tidak kehilangan arah. Lalu jika manusia itu sudah tidak tahu jalan mana yang akan ia tempuh maka tuhan akan mengabaikannya? Tidakkah tuhan maha pengasih? Kenapa pula dia membeda-bedakan?
Dulu presepsiku tentang Tuhan berubah. Dia yang katanya adalah sebuah harapan, masih saja belum menjamahku. Dia yang katanya maha pemberi, masih saja belum dapat aku rasakan. Tuhan hanyalah angan, yang sengaja dibuat agar setiap manusia tidak kehilangan arah. Lalu jika manusia itu sudah tidak tahu jalan mana yang akan ia tempuh maka tuhan akan mengabaikannya? Tidakkah tuhan maha pengasih? Kenapa pula dia membeda-bedakan?
Orang tuaku yang meninggal karena kecelakaan, juga
meninggalkan hutang-hutang yang membelit kepada seorang anak berusia 16 tahun
saat itu. Rumahku disita, beserta seluruh isinya. Lalu aku tinggal bersama
seorang pamanku. Aku merasa Tuhan tidak adil. Kenapa pula Dia mengambil semua
yang aku miliki?
Tuhan tak pernah memelukku saat air mata masih saja
tertumpah setiap malam. Tuhan juga tidak menolongku saat aku hanya diberi
sepiring nasi dan garam oleh paman dan bibiku setiap harinya. Sejak saat itu,
aku melupakan segala hal yang diajarkan ibu, segala yang katanya haram, segala
yang katanya hina. Aku sudah tidak memikirkan apa-apa lagi.
Aku menjadi seorang pelacur saat usiaku 17 tahun.
Aku merasa itulah duniaku, itulah jalan yang harusnya aku tempuh. Tanpa Tuhan,
aku bisa memiliki apa yang aku mau, baju baru, dan segala yang aku butuhkan.
Lalu apakah kasih Tuhan masih aku butuhkan?
***
Dalam diam aku bersenandung. Mengingat masa-masa
saat aku mengenal Tuhan. Saat aku masih sering berdoa lima waktu dalam sehari.
Saat cinta orang tua masih bisa aku gapai. Langkahku makin gontai, masih mencoba
mencari tempat untuk aku berteduh malam ini.
Angin memelukku semakin kencang. Meniadakan
harapan-harapan yang dulu sempat aku genggam. Aku mengingat kembali tahun-tahun
disaat aku masih seseorang yang mengerti ajaran Tuhan, seseorang yang masih menyebut
nama-Nya ketika aku merasa membutuhkan.
Sudah 5 tahun aku menjadi pelacur. Awalnya aku tidak
tahu bahwa aku terkena penyakit herpes. Penyakit yang terjadi karena terlalu
sering bergonta-ganti pasangan. Ya, dulu aku bisa melayani 6 lelaki hidung belang
dalam semalam. Semua kehangatan, semua belaian yang aku rasakan hanyalah nafsu,
hanyalah kepuasan karena telah mencicipi tubuhku yang manis. Sesungguhnya aku
tidak pernah mengerti apa itu sebuah kehangatan dicintai, perasaan memiliki
dengan seorang lelaki. Bagaimana bisa? Aku milik siapa saja yang mampu membayar
tubuhku dengan mahal, karna yang aku tahu hanyalah bagaimana cara menyelesaikan
setiap malamnya untuk lembaran rupiah.
Tapi uangku hilang, tak berbekas karena aku pun
terlilit hutang kepada germo yang menampungku. Aku juga diusir dari sana karna
penyakitku ini dianggap tidak akan menghasilkan apa-apa untuknya. Kini yang aku
miliki hanya selembar pakaian yang aku kenakan, dan seonggok daging yang tidak
memiliki harapan.
Kakiku terseok mendekati sebuah rumah dengan cahaya
temaram yang akrab, itu adalah rumah pamanku. Aku tersenyum, semoga mereka
masih mau memberikan tempat disisa umurku. Aku butuh air minum, aku butuh
makanan agar tubuhku membaik. Lalu aku mengetuk pintu berharap ada seseorang
didalam.
Udara yang keluar saat pintu rumah dibuka
menyejukkanku. Aku membayangkan dapat tidur kembali disebuah ranjang setelah
berhari-hari mencari tempat dipelatararan toko.
“Sandra? mau apa lagi kamu?” tanya pamanku
dangan nada suara yang tak pernah berubah. “Aku tidak punya apa-apa lagi paman,
izinkan aku menginap disini untuk semalam.” Pintaku dengan wajah memelas dan
nada yang memohon. Berharap paman akan luluh melihat keadaanku yang seperti
ini.
Namun belum juga menjawab, pintu itu
sudah dibanting hingga mengeluarkan suara yang memekakan telinga. Aku berusaha
untuk mengetuk pintu itu berkali-kali. Hingga buku-buku tanganku terasa perih.
Tapi keheningan yang menyambutku.
Aku tak kuasa untuk membendung
tangis. Aku memeluk didiriku sendiri dengan lengan yang makin terlihat
tulang-tulang rapuhnya. Inikah yang harus aku terima dari semua perjalan
hidupku? Aku kembali mengetuk pintu rumah itu, dan kali ini berhasil.
“Sandra! kamu sudah mempermalukan
almarhum kedua orang tuamu! Saya sudah tidak sudi menampung pelacur!
Berpenyakit! Hina! Cepat pergi dari sini!”
Pintu itu kembali ditutup dengan
hantaman yang luar biasa menyakitkan. Hinaan yang terlontar dari mulut paman
merobek sebagian dari apa yang masih dimiliki oleh hatiku. Aku tertegun mendengar
pernyataan orang lain tentangku. Kenapa paman tidak sadar? Bahwa yang membuat
aku masuk ke dunia seperti ini adalah dirinya sendiri! Jika saja dia tidak
pernah membuat aku merasa sangat membutuhkan uang untuk makan, mungkin sekarang
aku masih sandra yang dulu.
Aku meninggalkan rumah itu dengan
luka. Masih berjalan dengan air mata yang bergulir, aku melanjutkan langkah.
Entah harus kemana lagi tubuh yang menjijikkan ini kubawa. Tubuhku mulai
terlihat banyak luka karena bintil-bintil disekujur tubuh mulai pecah. Aku tak
henti-hentinya memaki diriku sendiri. Perempuan jalang, kotor, menjijikkan.
Aku masih terus berjalan dengan
dingin yang munusuk hingga kepusat sarafku. Terbersit sekilas untuk pergi
kerumah sakit, agar mendapatkan perawatan yang semestinya. Atau setidaknya aku
tidak tergeletak di jalan sepi dan menjadi bangkai hingga ada orang yang
menemukanku. Tapi apa yang aku punya sekarang? Untuk mengisi perut dengan
sesuap nasi saja aku sudah tidak bisa. Mana mungkin ada rumah sakit yang mau
manampung pasien yang tak beruang.
Uang memang bukan segalanya, tapi
semua hal membutuhkan uang. Aku menelan konsep itu bulat-bulat. Berusaha
membenarkan apa yang aku lakukan selama ini. Tetapi kenyataannya, aku mengidap
penyakit ini pun karna untuk mendapatkan uang.
***
Lipatan atas bibirku mulai
membengkak karna luka yang makin parah. Untuk berbicara pun aku memerlukan
seluruh tenagaku untuk menahan sakit yang luar biasa. seandainya Tuhan itu
memang ada, seharusnya aku tidak merasakan hal sepeti ini. terbuang, lalu mati
dijalanan.
“Sandra!” deru mobil yang melaju
kencang menyamarkan suara orang yang memanggilku. Aku menoleh kearah sumber
suara, dan memicingkan mataku agar mampu melihat dicahaya yang sangat minim.
“Sandra, kenapa kamu disini?”
seorang perempuan cantik keluar dari mobil disebrang jalan. Langkahnya yang
anggun, dengan tungkai kaki yang tertutup indah oleh lembaran kain yang sangat
cocok ditubuhnya. Dan sebuah penutup kepala yang indah untuk dikenakan oleh
wajahnya yang oval.
Aku memutar ingatanku tentang wanita
cantik yang sedang berjalan kearahku. Aku mengenali wajah ini, wajah yang
setiap pagi aku lihat berada disampingku ketika bel berbunyi tanda kelas akan
segera dimulai.
“Vivi!” sontak aku memeluknya dengan
kecepatan yang bisa aku lakukan. Seperti mendapatkan sinar yang aku butuhkan
untuk memulai hari. Dia melihatku dari ujung kaki hingga kewajahku yang mungkin
terlihat mengerikan dimatanya.
Aku menarik nafas panjang saat vivi
tidak menjauhkan tubuhnya dari pelukanku. “Ada apa denganmu Sandra?” dia
memiringkan kepalanya seolah berfikir apa yang telah membuat aku seperti ini.
Aku tidak sanggup untuk menceritakan
semuanya pada vivi. Aku justru semakin memeluknya dan menangis dengan
sesenggukkan dibalik bahunya yang ramping. Vivi tidak melanjutkan pertanyaannya
dan segera menarikku masuk kedalam mobil.
“Kau punya tempat tinggal?”
pertanyaan vivi menghantamku tepat kesasaran. Aku hanya menggeleng lemah
disamping kursi kemudi. Aku melihat vivi menganggukan kepala sedikit lalu
menancapkan high heels coklatnya diatas pedal gas.
Aku mengalihkan pandanganku ke jalan
yang tidak aku kenali. Mencoba menelusuri kemana vivi akan membawaku. Aku ingin
bertanya, tapi aku menahan diri. Biar saja vivi membawaku kemana saja asalkan
aku tidak sendirian dan terbuang lagi.
Dia berhenti dipelataran rumah yang
luas dan cukup megah. Vivi menggandeng lenganku yang sangat ringkih lalu
mengajakku masuk kedalam. Suasana hangat menyambutku ramah, di dalam sini aku
bisa melihat Foto-foto keluarga yang sangat manis tertempel di dinding dan juga
disusun diatas meja hias, lalu serangkaian foto wisuda yang di tunjukkan dengan
bangga tentang keberhasilan vivi meraih gelarnya saat kuliah.
Hatiku miris, rasanya seperti
meneteskan perahan jeruk nipis di atas luka yang masih berdarah-darah. Aku iri
dengan vivi, dengan hidupnya yang gilang gemilang, dengan nama baik keluarga
yang masih kuat ia pertahankan. Dengan norma agama yang masih iya pegang dengan
teguh.
Sedangkan aku? Aku justru tidak
percaya bahwa Tuhan memang ada. Wujudnya yang tak pernah tampak membuat aku
yakin bahwa tuhan memang hanya sekedar konsep belaka. Tentang keyakinan yang
membuang-buang waktu.
Vivi membawaku kesebuah kamar dan
menyuruhku untuk segera membersihkan tubuh. Ia menaruh salah satu pakaian
tidurnya diatas ranjang yang nyaman. Aku
tersenyum kepada vivi yang segera pergi agar aku memiliki waktu privasi untuk
diriku sendiri.
Kamar ini sepertinya adalah salah
satu kamar tamu dirumah vivi. Terlihat sangat mewah untuk aku tempati.
Ornamen-ornamen yang mengisi ruangan ini disusun sebegitu rupa hingga terlihat
sangat cantik. Aku beruntung bertemu vivi malam ini, setidaknya aku dapat
bermalam dan beristirahat sejenak.
Aku melepaskan pakainku satu demi
satu saat memasuki kamar mandi. Ada sebuah cermin yang terpasang tepat
disamping pintu, aku menoleh sekilas dan mendapati seorang wanita dengan tulang
yang hampir merobek kulit tipisnya. Wanita itu terlihat sangat mengenaskan
dengan luka memerah disekujur tubuh. Dan aku menyadari aku lah wanita itu.
Aku buru-buru pergi dari depan
cermin sebelum merasa ketakutan dengan diriku sendiri dan segera menyalakan air
panas dari keran. Asap yang muncul dari setiap percikan air yang keluar
menghangatkan pori-poriku hingga kedalam. Ketenangan menjalar dengan lembut
disetiap sarafku yang tadinya kaku, membuat kelopak mata perlahan-lahan
tertutup dengan nyaman.
Setelah selesai mandi aku segera
berpakaian dan tergoda oleh ranjang empuk yang lebar dengan seprai bunga
berwarna ungu yang cantik. Aku merebahkan kepalaku diatas bantal dan mencoba
untuk terlelap. Aku mendengar suara
pintu yang dibuka ketika kesadaranku masih tersisa. Namun aku memutuskan untuk
tidur dan membiarkan pintu itu kembali tertutup seperti semula.
***
Aku berlari disebuah kota yang mati,
tak ada siapapun, hanya keheningan yang mengisi deru nafasku yang mulai
kelelahan. Aku berlari seperti mencari sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa
itu, atau siapa itu. Tapi yang aku dapati hanyalah rumah-rumah kosong, gedung
tua, dan pepohonan yang mulai mati. Aku tidak menemukan apapun, atau mungkin
memang tidak ada apa-apa yang bisa aku cari.
Aku tidak berhenti berlari, hanya
karna tidak ada hal yang bisa aku lakukan selain itu. Disini aku seperti tidak
mengenal dimensi waktu, semua sama saja, hingga aku tidak bisa membedakan
apakah sekarang ini malam atau siang atau pagi, karna cahaya matahari disini
selalu redup.
Aku mengabaikan cericip burung yang menyambut dari
hentakan kaki yang aku buat, hentakkan itu menciptakan irama yang aku kenal.
Lagi pula semua yang ada dikota ini pun sepertinya suatu hal yang pernah aku
kenal, jalan-jalannya, rumah-rumahnya, bahkan gedung sekolah yang baru saja aku lewati terlihat tidak begitu asing.
Seperti berada disuatu masa yang sangat jauh, namun aku benar-benar tidak
mengingat apapun kecuali rasa familier.
Aku benar-benar kelelahan sekarang.
Aku memperlambat gerakkanku, tetapi aku tahu bahwa pada akhirnya aku akan
berhenti dan beristirahat. Lalu aku menemukan tempat yang terlihat nyaman untuk
meluruskan kakiku. Tempat itu dominan berwarna putih, bagunan itu pun tampak
tua seperti gedung-gedung yang lainnya, tapi entah kenapa gedung ini terlihat
berpendar oleh cahaya yang temaram. Bagian atasnya terdapat sebuah kubah megah
yang sering aku jumpai, namun aku masih memutar otak, berusaha mengingat tempat
yang sepertinya sangat akrab denganku. Tapi semua samar, tertutup selubung
hingga setiap aku mencoba mengingat-ngingat, aku justru merasa pening.
Aku menyandarkan tubuhku disebuah pilar
dekat pintu masuk gedung itu. Nafasku yang tersengal-sengal akhirnya mulai
mereda. Namun saat nafasku kembali teratur, aku malah mendengar suara lain dari
dalam gedung. Aku hampir saja kembali berlari karna terkejut bahwa ada
seseorang didalam. Aku takut, aku ingin pergi dari sini, tapi bukankah orang
itu satu-satunya yang aku temui? Mungkin saja dia tahu apa yang terjadi dan
dapat membantuku untuk mengingat sesuatu.
Aku berjalan perlahan memasuki
gedung yang dipenuhi oleh karpet-karpet. Tidak ada barang-barang lain lagi
disini selain sebuah mimbar yang berdiri dengan anggun. Aku tahu tempat apa
ini, aku tahu dimana aku berada. Namun kesadaran itu tidak mengentikan
langkahku untuk mendekati sesorang berbaju putih yang sedang bersila menghadap
mimbar dengan khusyuk menyebutkan sesuatu berulang-ulang.
Sebelum aku dapat menjangkaunya,
orang itu sudah menoleh kearahku dan tersenyum seakan-akan memang menungguku
datang. Sejenak aku memerhatikan jenggotnya yang panjang, lalu memutuskan untuk
duduk di hadapannya agar aku bisa bertanya.
“Kamu tahu ini dimana?”
pertanyaannya mengagetkanku yang sedang memilih pertanyaan mana yang akan lebih
dulu aku tanyakan.
Aku berusaha menjawabnya dengan
benar sesuai dengan ingatan yang baru saja aku dapatkan. “Rumah Tuhan.”
“Sekarang dimana tuhanmu berada?”
kali ini aku tidak langsung menjawab. Aku perlu berfikir untuk menemukan
jawabannya. Aku mencoba menulusuri ingatanku tentang keberadaan Tuhan, namun
aku tidak mendapat apapun.
“Aku tidak tahu.” Jawabku dengan
polos. Orang itu tersenyum.
“Tuhan ada dihatimu, sisimu,
langkahmu, ingatanmu, keinginanmu, dan harapanmu.” Aku terdiam mendengar
jawabannya. Dan tiba-tiba saja aku seperti dibawa ke masa yang sedari tadi aku
coba untuk mengingatnya, namun hanya sekedar bayangan yang berkelebatan. Aku
seperti melihat reka ulang sebuah film tapi akulah yang menjadi pemeran utama.
Dalam bayangan itu, aku melihat
sosok ibu yang menahanku untuk ikut bersama ibu sesaat sebelum kecelakaan maut
itu terjadi. Aku sadar ternyata Tuhan telah mengatur agar aku tetap hidup. Lalu
bayangan itu mengilang dan digantikan oleh bayangan baru. Kali ini ada bayangan
paman yang sedang berbincang dengan salah satu temannya, awalnya aku tidak
mengerti, tapi tiba-tiba ada bayangan baru muncul. Bayangan itu menampilkan aku
yang sedang tersenyum bahagia dipelaminan bersama orang itu, karna ternyata
paman telah berniat menjodohkan ku dengannya agar aku bisa segera pergi dari
rumah paman. Namun hal itu tidak pernah terjadi, karna sehari sebelumnya aku
memutuskan untuk pergi dari rumah paman dan malah menjadi pelacur. Hatiku
miris, ternyata Tuhan mengirim paman untuk menjadi perantara dalam mewujudkan
doa-doaku. Tapi aku terlalu tidak sabar dalam menghadapi cobaan yang sengaja
Tuhan berikan untuk mengujiku. Lalu aku merasa pipiku mulai basah.
Dan kini bayangan yang muncul adalah
saat Vivi mengendarai mobil dijalan yang padat merayap oleh kemacetan. Lalu Vivi
memutuskan untuk melewati jalan kecil dan sepi yang berada disamping ruas
jalan. Dan disitulah Vivi menemukanku yang sedang berada dipuncak keputusasaan.
Aku seperti tertampar oleh kenyataan yang aku sangkal selama ini. Kini air mata
deras melewati pipiku lalu jatuh membasahi karpet yang ternyata adalah sajadah
panjang terbentang.
Tuhan masih mengingatku ketika nama-Nya saja sudah tidak
pernah aku sebut. Tuhan masih memberikan apa yang aku butuhkan ketika aku
mencaci maki tentang keabsahannya. Bayangan-bayangan itu hilang, dan aku
kembali melihat kakek dihadapanku tersenyum.
“Jadi siapa Tuhanmu?” suara itu terdengar jauh namun
langsung memenuhi otakku dengan hantaman yang menyakitkan. Lalu aku tersadar.
***
“Allah adalah Tuhanku!”
Aku mengucapkan itu berulang-ulang hingga
membangunkan seluruh orang yang ada dirumah ini. Aku menangis sejadi-jadinya ketika
terbangun dan sadar sekarang masih jam dua pagi. Aku masih menangis hingga
suara dan air mataku sudah tidak dapat aku rasakan lagi. Aku sadar ada Vivi dan
kedua orang tuanya yang sedang berada disekitar tempat tidur ini dan memegangi
tubuhku yang berguncang hebat. Aku ingin bersujud, momohon ampunanku yang
terakhir.
Aku menatap mata vivi yang terlihat
sangat panik. Aku mengumpulkan seluruh tenagaku disela air mata yang sedu sedan
untuk memintanya mengajariku shalat karna ingatanku telah samar.
“ingatkan kembali cara untuk shalat,
sebelum semuanya terlambat.” ucapku lirih disamping telinganya yang tak jauh
dariku. Vivi mengangguk sekali lalu bergegas ke kamar mandi untuk mengambil
wudhu. Sementara itu, ayah dan ibu vivi membimbingku untuk tayamum di dinding
yang berada dibelakang tempat tidur. Air mataku mengalir tanpa bisa aku cegah
ketika mengingat kembali tentang kemusyrikan yang sempat benar-benar aku
percaya.
“Kamu harus kembali mengucap kedua
kalimat syahadat sandra, untuk mengembalikan ke islamanmu yang telah kamu
tinggalkan.”
“Bimbing aku,” vivi menatapku yang
kini mengangguk yakin.
“Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah.” vivi menucapkannya dengan perlahan agar aku dapat mengikutinya.
“As
ha du alla ila ha ilallah” ucapku dengan terbata, hatiku bergetar dengan
kesaksian ku bahwa tiada tuhan selain Allah.
“Asyhadu an-Na Muhammadarrasuulullah.” Vivi mengusap
air mata diwajahku, namun ia lupa untuk menahan tetesan itu diwajahnya sendiri.
“As ha du ana
muhammadar rasul lullah.” Aku menyelesaikan kalimat itu dengan keyakinan yang
kuat bahwa hanyalah muhammad yang akan selalu menjadi utusan Allah hingga akhir
jaman. Aku beruntung dapat tersadar kembali dari dunia gelap, aku benar-benar
bersyukur bahwa Allah masih mengizinkanku untuk mengingat nama-Nya disetiap
helaan nafasku.
Vivi dan kedua
orang tuanya membimbingku untuk berdiri, namun aku benar-benar tidak sanggup
untuk menahan bobot tubuhku sendiri. Akhirnya vivi membantuku mengenakan mukena
dan shalat dalam posisi berbaring.
“Gerakkan tanganmu
seperti yang aku lakukan. Nanti ibu akan membisikan bacaannya ditelingamu.” Vivi bangkit dan mengenakan mukenanya sendiri lalu
memulai shalat malam.
Aku mendengar ibu membisikkan niatnya,
“usoli sunatan tahajudi rokataini lillah hita ala.”
aku berusaha mengucapkannya sebaik yang aku bisa meskipun dengan terbata-bata. Namun yang terdengar hanyalah suara
lirih.
Aku mengangkat kedua tanganku membentuk lipatan
diatas dada seperti yang vivi lakukan.
“Allahuakbar” Aku hanya memikirkan bagaimana Allah
mampu memaafkan seluruh dosaku yang tak terampuni.
“Allahuakbar kabirau walhamdulillahhikasiro...” aku
mengucapkankannya terlalu lirih hingga suaraku sendiri tidak dapat aku dengar,
jadi aku memejamkan mataku agar aku bisa mengikuti bacaan ibu didalam hati.
Tetapi saat aku menutup mata, aku justru melihat seluruh ruangan yang berwarna
putih. Tanpa atap, tanpa lantai, seperti ruangan tanpa batas. Dan aku juga
melihat ada orang yang tadi berada dalam mimpiku.
“Sebenarnya siapa kamu?” aku melontarkan
pertanyaanku dengan pelan.
“Kamu sudah mengenalku sejak dulu. Tugasku adalah
membawamu kembali.” Aku tertegun dengan perkataannya, tetapi aku menaruh
telapak tanganku diatas tanganya yang terulur.
Aku terus berjalan mengikutinya ke suatu tempat yang
tidak aku kenali. Saat dia membukakan pintu lalu menyuruhku masuk, aku melihat
sinar yang sangat terang dengan percikan keindahan yang tak tertandingi.
Kini aku merasa telah berada ditempat semestinya,
ditempat aku dapat berbincang dengan-Nya setiap saat tanpa mengenal waktu. Aku
sudah merasa tidak memiliki alasan untuk kembali ke dunia tempat aku tinggal
sebelumnya, karna disisi-Nya jugalah aku akan tinggal selamanya.
Tamat
awesome yon ;))))) keren loh, menyentuh juga :")
ReplyDelete