Saturday, January 12, 2013

Sujudku

juara 2 lomba menulis cerpen se-jabodetabek di ajang festival dwiwarna 2013 :)

Dulu presepsiku tentang Tuhan berubah. Dia yang katanya adalah sebuah harapan, masih saja belum menjamahku. Dia yang katanya maha pemberi, masih saja belum dapat aku rasakan. Tuhan hanyalah angan, yang sengaja dibuat agar setiap manusia tidak kehilangan arah. Lalu jika manusia itu sudah tidak tahu jalan mana yang akan ia tempuh maka tuhan akan mengabaikannya? Tidakkah tuhan maha pengasih? Kenapa pula dia membeda-bedakan?
Orang tuaku yang meninggal karena kecelakaan, juga meninggalkan hutang-hutang yang membelit kepada seorang anak berusia 16 tahun saat itu. Rumahku disita, beserta seluruh isinya. Lalu aku tinggal bersama seorang pamanku. Aku merasa Tuhan tidak adil. Kenapa pula Dia mengambil semua yang aku miliki?
Tuhan tak pernah memelukku saat air mata masih saja tertumpah setiap malam. Tuhan juga tidak menolongku saat aku hanya diberi sepiring nasi dan garam oleh paman dan bibiku setiap harinya. Sejak saat itu, aku melupakan segala hal yang diajarkan ibu, segala yang katanya haram, segala yang katanya hina. Aku sudah tidak memikirkan apa-apa lagi.
Aku menjadi seorang pelacur saat usiaku 17 tahun. Aku merasa itulah duniaku, itulah jalan yang harusnya aku tempuh. Tanpa Tuhan, aku bisa memiliki apa yang aku mau, baju baru, dan segala yang aku butuhkan. Lalu apakah kasih Tuhan masih aku butuhkan?
***
Dalam diam aku bersenandung. Mengingat masa-masa saat aku mengenal Tuhan. Saat aku masih sering berdoa lima waktu dalam sehari. Saat cinta orang tua masih bisa aku gapai. Langkahku makin gontai, masih mencoba mencari tempat untuk aku berteduh malam ini.
Angin memelukku semakin kencang. Meniadakan harapan-harapan yang dulu sempat aku genggam. Aku mengingat kembali tahun-tahun disaat aku masih seseorang yang mengerti ajaran Tuhan, seseorang yang masih menyebut nama-Nya ketika aku merasa membutuhkan.
Sudah 5 tahun aku menjadi pelacur. Awalnya aku tidak tahu bahwa aku terkena penyakit herpes. Penyakit yang terjadi karena terlalu sering bergonta-ganti pasangan. Ya, dulu aku bisa melayani 6 lelaki hidung belang dalam semalam. Semua kehangatan, semua belaian yang aku rasakan hanyalah nafsu, hanyalah kepuasan karena telah mencicipi tubuhku yang manis. Sesungguhnya aku tidak pernah mengerti apa itu sebuah kehangatan dicintai, perasaan memiliki dengan seorang lelaki. Bagaimana bisa? Aku milik siapa saja yang mampu membayar tubuhku dengan mahal, karna yang aku tahu hanyalah bagaimana cara menyelesaikan setiap malamnya untuk lembaran rupiah.
Tapi uangku hilang, tak berbekas karena aku pun terlilit hutang kepada germo yang menampungku. Aku juga diusir dari sana karna penyakitku ini dianggap tidak akan menghasilkan apa-apa untuknya. Kini yang aku miliki hanya selembar pakaian yang aku kenakan, dan seonggok daging yang tidak memiliki harapan.
Kakiku terseok mendekati sebuah rumah dengan cahaya temaram yang akrab, itu adalah rumah pamanku. Aku tersenyum, semoga mereka masih mau memberikan tempat disisa umurku. Aku butuh air minum, aku butuh makanan agar tubuhku membaik. Lalu aku mengetuk pintu berharap ada seseorang didalam.
Udara yang keluar saat pintu rumah dibuka menyejukkanku. Aku membayangkan dapat tidur kembali disebuah ranjang setelah berhari-hari mencari tempat dipelatararan toko.
            “Sandra? mau apa lagi kamu?” tanya pamanku dangan nada suara yang tak pernah berubah. “Aku tidak punya apa-apa lagi paman, izinkan aku menginap disini untuk semalam.” Pintaku dengan wajah memelas dan nada yang memohon. Berharap paman akan luluh melihat keadaanku yang seperti ini.
            Namun belum juga menjawab, pintu itu sudah dibanting hingga mengeluarkan suara yang memekakan telinga. Aku berusaha untuk mengetuk pintu itu berkali-kali. Hingga buku-buku tanganku terasa perih. Tapi keheningan yang menyambutku.
            Aku tak kuasa untuk membendung tangis. Aku memeluk didiriku sendiri dengan lengan yang makin terlihat tulang-tulang rapuhnya. Inikah yang harus aku terima dari semua perjalan hidupku? Aku kembali mengetuk pintu rumah itu, dan kali ini berhasil.
            “Sandra! kamu sudah mempermalukan almarhum kedua orang tuamu! Saya sudah tidak sudi menampung pelacur! Berpenyakit! Hina! Cepat pergi dari sini!”
            Pintu itu kembali ditutup dengan hantaman yang luar biasa menyakitkan. Hinaan yang terlontar dari mulut paman merobek sebagian dari apa yang masih dimiliki oleh hatiku. Aku tertegun mendengar pernyataan orang lain tentangku. Kenapa paman tidak sadar? Bahwa yang membuat aku masuk ke dunia seperti ini adalah dirinya sendiri! Jika saja dia tidak pernah membuat aku merasa sangat membutuhkan uang untuk makan, mungkin sekarang aku masih sandra yang dulu.
            Aku meninggalkan rumah itu dengan luka. Masih berjalan dengan air mata yang bergulir, aku melanjutkan langkah. Entah harus kemana lagi tubuh yang menjijikkan ini kubawa. Tubuhku mulai terlihat banyak luka karena bintil-bintil disekujur tubuh mulai pecah. Aku tak henti-hentinya memaki diriku sendiri. Perempuan jalang, kotor, menjijikkan.
            Aku masih terus berjalan dengan dingin yang munusuk hingga kepusat sarafku. Terbersit sekilas untuk pergi kerumah sakit, agar mendapatkan perawatan yang semestinya. Atau setidaknya aku tidak tergeletak di jalan sepi dan menjadi bangkai hingga ada orang yang menemukanku. Tapi apa yang aku punya sekarang? Untuk mengisi perut dengan sesuap nasi saja aku sudah tidak bisa. Mana mungkin ada rumah sakit yang mau manampung pasien yang tak beruang.
            Uang memang bukan segalanya, tapi semua hal membutuhkan uang. Aku menelan konsep itu bulat-bulat. Berusaha membenarkan apa yang aku lakukan selama ini. Tetapi kenyataannya, aku mengidap penyakit ini pun karna untuk mendapatkan uang.
***
            Lipatan atas bibirku mulai membengkak karna luka yang makin parah. Untuk berbicara pun aku memerlukan seluruh tenagaku untuk menahan sakit yang luar biasa. seandainya Tuhan itu memang ada, seharusnya aku tidak merasakan hal sepeti ini. terbuang, lalu mati dijalanan.
            “Sandra!” deru mobil yang melaju kencang menyamarkan suara orang yang memanggilku. Aku menoleh kearah sumber suara, dan memicingkan mataku agar mampu melihat dicahaya yang sangat minim.
            “Sandra, kenapa kamu disini?” seorang perempuan cantik keluar dari mobil disebrang jalan. Langkahnya yang anggun, dengan tungkai kaki yang tertutup indah oleh lembaran kain yang sangat cocok ditubuhnya. Dan sebuah penutup kepala yang indah untuk dikenakan oleh wajahnya yang oval.
            Aku memutar ingatanku tentang wanita cantik yang sedang berjalan kearahku. Aku mengenali wajah ini, wajah yang setiap pagi aku lihat berada disampingku ketika bel berbunyi tanda kelas akan segera dimulai.
            “Vivi!” sontak aku memeluknya dengan kecepatan yang bisa aku lakukan. Seperti mendapatkan sinar yang aku butuhkan untuk memulai hari. Dia melihatku dari ujung kaki hingga kewajahku yang mungkin terlihat mengerikan dimatanya.
            Aku menarik nafas panjang saat vivi tidak menjauhkan tubuhnya dari pelukanku. “Ada apa denganmu Sandra?” dia memiringkan kepalanya seolah berfikir apa yang telah membuat aku seperti ini.
            Aku tidak sanggup untuk menceritakan semuanya pada vivi. Aku justru semakin memeluknya dan menangis dengan sesenggukkan dibalik bahunya yang ramping. Vivi tidak melanjutkan pertanyaannya dan segera menarikku masuk kedalam mobil.
            “Kau punya tempat tinggal?” pertanyaan vivi menghantamku tepat kesasaran. Aku hanya menggeleng lemah disamping kursi kemudi. Aku melihat vivi menganggukan kepala sedikit lalu menancapkan high heels coklatnya diatas pedal gas.
            Aku mengalihkan pandanganku ke jalan yang tidak aku kenali. Mencoba menelusuri kemana vivi akan membawaku. Aku ingin bertanya, tapi aku menahan diri. Biar saja vivi membawaku kemana saja asalkan aku tidak sendirian dan terbuang lagi.
            Dia berhenti dipelataran rumah yang luas dan cukup megah. Vivi menggandeng lenganku yang sangat ringkih lalu mengajakku masuk kedalam. Suasana hangat menyambutku ramah, di dalam sini aku bisa melihat Foto-foto keluarga yang sangat manis tertempel di dinding dan juga disusun diatas meja hias, lalu serangkaian foto wisuda yang di tunjukkan dengan bangga tentang keberhasilan vivi meraih gelarnya saat kuliah.
            Hatiku miris, rasanya seperti meneteskan perahan jeruk nipis di atas luka yang masih berdarah-darah. Aku iri dengan vivi, dengan hidupnya yang gilang gemilang, dengan nama baik keluarga yang masih kuat ia pertahankan. Dengan norma agama yang masih iya pegang dengan teguh.
            Sedangkan aku? Aku justru tidak percaya bahwa Tuhan memang ada. Wujudnya yang tak pernah tampak membuat aku yakin bahwa tuhan memang hanya sekedar konsep belaka. Tentang keyakinan yang membuang-buang waktu.
            Vivi membawaku kesebuah kamar dan menyuruhku untuk segera membersihkan tubuh. Ia menaruh salah satu pakaian tidurnya diatas ranjang yang nyaman.  Aku tersenyum kepada vivi yang segera pergi agar aku memiliki waktu privasi untuk diriku sendiri.
            Kamar ini sepertinya adalah salah satu kamar tamu dirumah vivi. Terlihat sangat mewah untuk aku tempati. Ornamen-ornamen yang mengisi ruangan ini disusun sebegitu rupa hingga terlihat sangat cantik. Aku beruntung bertemu vivi malam ini, setidaknya aku dapat bermalam dan beristirahat sejenak.
            Aku melepaskan pakainku satu demi satu saat memasuki kamar mandi. Ada sebuah cermin yang terpasang tepat disamping pintu, aku menoleh sekilas dan mendapati seorang wanita dengan tulang yang hampir merobek kulit tipisnya. Wanita itu terlihat sangat mengenaskan dengan luka memerah disekujur tubuh. Dan aku menyadari aku lah wanita itu.
            Aku buru-buru pergi dari depan cermin sebelum merasa ketakutan dengan diriku sendiri dan segera menyalakan air panas dari keran. Asap yang muncul dari setiap percikan air yang keluar menghangatkan pori-poriku hingga kedalam. Ketenangan menjalar dengan lembut disetiap sarafku yang tadinya kaku, membuat kelopak mata perlahan-lahan tertutup dengan nyaman.
            Setelah selesai mandi aku segera berpakaian dan tergoda oleh ranjang empuk yang lebar dengan seprai bunga berwarna ungu yang cantik. Aku merebahkan kepalaku diatas bantal dan mencoba untuk terlelap. Aku  mendengar suara pintu yang dibuka ketika kesadaranku masih tersisa. Namun aku memutuskan untuk tidur dan membiarkan pintu itu kembali tertutup seperti semula.
***
            Aku berlari disebuah kota yang mati, tak ada siapapun, hanya keheningan yang mengisi deru nafasku yang mulai kelelahan. Aku berlari seperti mencari sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu, atau siapa itu. Tapi yang aku dapati hanyalah rumah-rumah kosong, gedung tua, dan pepohonan yang mulai mati. Aku tidak menemukan apapun, atau mungkin memang tidak ada apa-apa yang bisa aku cari.
            Aku tidak berhenti berlari, hanya karna tidak ada hal yang bisa aku lakukan selain itu. Disini aku seperti tidak mengenal dimensi waktu, semua sama saja, hingga aku tidak bisa membedakan apakah sekarang ini malam atau siang atau pagi, karna cahaya matahari disini selalu redup.
Aku mengabaikan cericip burung yang menyambut dari hentakan kaki yang aku buat, hentakkan itu menciptakan irama yang aku kenal. Lagi pula semua yang ada dikota ini pun sepertinya suatu hal yang pernah aku kenal, jalan-jalannya, rumah-rumahnya, bahkan gedung sekolah yang baru saja  aku lewati terlihat tidak begitu asing. Seperti berada disuatu masa yang sangat jauh, namun aku benar-benar tidak mengingat apapun kecuali rasa familier.
            Aku benar-benar kelelahan sekarang. Aku memperlambat gerakkanku, tetapi aku tahu bahwa pada akhirnya aku akan berhenti dan beristirahat. Lalu aku menemukan tempat yang terlihat nyaman untuk meluruskan kakiku. Tempat itu dominan berwarna putih, bagunan itu pun tampak tua seperti gedung-gedung yang lainnya, tapi entah kenapa gedung ini terlihat berpendar oleh cahaya yang temaram. Bagian atasnya terdapat sebuah kubah megah yang sering aku jumpai, namun aku masih memutar otak, berusaha mengingat tempat yang sepertinya sangat akrab denganku. Tapi semua samar, tertutup selubung hingga setiap aku mencoba mengingat-ngingat, aku justru merasa pening.
            Aku menyandarkan tubuhku disebuah pilar dekat pintu masuk gedung itu. Nafasku yang tersengal-sengal akhirnya mulai mereda. Namun saat nafasku kembali teratur, aku malah mendengar suara lain dari dalam gedung. Aku hampir saja kembali berlari karna terkejut bahwa ada seseorang didalam. Aku takut, aku ingin pergi dari sini, tapi bukankah orang itu satu-satunya yang aku temui? Mungkin saja dia tahu apa yang terjadi dan dapat membantuku untuk mengingat sesuatu.
            Aku berjalan perlahan memasuki gedung yang dipenuhi oleh karpet-karpet. Tidak ada barang-barang lain lagi disini selain sebuah mimbar yang berdiri dengan anggun. Aku tahu tempat apa ini, aku tahu dimana aku berada. Namun kesadaran itu tidak mengentikan langkahku untuk mendekati sesorang berbaju putih yang sedang bersila menghadap mimbar dengan khusyuk menyebutkan sesuatu berulang-ulang.
            Sebelum aku dapat menjangkaunya, orang itu sudah menoleh kearahku dan tersenyum seakan-akan memang menungguku datang. Sejenak aku memerhatikan jenggotnya yang panjang, lalu memutuskan untuk duduk di hadapannya agar aku bisa bertanya.
            “Kamu tahu ini dimana?” pertanyaannya mengagetkanku yang sedang memilih pertanyaan mana yang akan lebih dulu aku tanyakan.
            Aku berusaha menjawabnya dengan benar sesuai dengan ingatan yang baru saja aku dapatkan. “Rumah Tuhan.”
            “Sekarang dimana tuhanmu berada?” kali ini aku tidak langsung menjawab. Aku perlu berfikir untuk menemukan jawabannya. Aku mencoba menulusuri ingatanku tentang keberadaan Tuhan, namun aku tidak mendapat apapun.
            “Aku tidak tahu.” Jawabku dengan polos. Orang itu tersenyum.
            “Tuhan ada dihatimu, sisimu, langkahmu, ingatanmu, keinginanmu, dan harapanmu.” Aku terdiam mendengar jawabannya. Dan tiba-tiba saja aku seperti dibawa ke masa yang sedari tadi aku coba untuk mengingatnya, namun hanya sekedar bayangan yang berkelebatan. Aku seperti melihat reka ulang sebuah film tapi akulah yang menjadi pemeran utama.
            Dalam bayangan itu, aku melihat sosok ibu yang menahanku untuk ikut bersama ibu sesaat sebelum kecelakaan maut itu terjadi. Aku sadar ternyata Tuhan telah mengatur agar aku tetap hidup. Lalu bayangan itu mengilang dan digantikan oleh bayangan baru. Kali ini ada bayangan paman yang sedang berbincang dengan salah satu temannya, awalnya aku tidak mengerti, tapi tiba-tiba ada bayangan baru muncul. Bayangan itu menampilkan aku yang sedang tersenyum bahagia dipelaminan bersama orang itu, karna ternyata paman telah berniat menjodohkan ku dengannya agar aku bisa segera pergi dari rumah paman. Namun hal itu tidak pernah terjadi, karna sehari sebelumnya aku memutuskan untuk pergi dari rumah paman dan malah menjadi pelacur. Hatiku miris, ternyata Tuhan mengirim paman untuk menjadi perantara dalam mewujudkan doa-doaku. Tapi aku terlalu tidak sabar dalam menghadapi cobaan yang sengaja Tuhan berikan untuk mengujiku. Lalu aku merasa pipiku mulai basah.
            Dan kini bayangan yang muncul adalah saat Vivi mengendarai mobil dijalan yang padat merayap oleh kemacetan. Lalu Vivi memutuskan untuk melewati jalan kecil dan sepi yang berada disamping ruas jalan. Dan disitulah Vivi menemukanku yang sedang berada dipuncak keputusasaan. Aku seperti tertampar oleh kenyataan yang aku sangkal selama ini. Kini air mata deras melewati pipiku lalu jatuh membasahi karpet yang ternyata adalah sajadah panjang terbentang.
Tuhan masih mengingatku ketika nama-Nya saja sudah tidak pernah aku sebut. Tuhan masih memberikan apa yang aku butuhkan ketika aku mencaci maki tentang keabsahannya. Bayangan-bayangan itu hilang, dan aku kembali melihat kakek dihadapanku tersenyum.
“Jadi siapa Tuhanmu?” suara itu terdengar jauh namun langsung memenuhi otakku dengan hantaman yang menyakitkan. Lalu aku tersadar.
***
“Allah adalah Tuhanku!”
Aku mengucapkan itu berulang-ulang hingga membangunkan seluruh orang yang ada dirumah ini. Aku menangis sejadi-jadinya ketika terbangun dan sadar sekarang masih jam dua pagi. Aku masih menangis hingga suara dan air mataku sudah tidak dapat aku rasakan lagi. Aku sadar ada Vivi dan kedua orang tuanya yang sedang berada disekitar tempat tidur ini dan memegangi tubuhku yang berguncang hebat. Aku ingin bersujud, momohon ampunanku yang terakhir.
            Aku menatap mata vivi yang terlihat sangat panik. Aku mengumpulkan seluruh tenagaku disela air mata yang sedu sedan untuk memintanya mengajariku shalat karna ingatanku telah samar.
            “ingatkan kembali cara untuk shalat, sebelum semuanya terlambat.” ucapku lirih disamping telinganya yang tak jauh dariku. Vivi mengangguk sekali lalu bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Sementara itu, ayah dan ibu vivi membimbingku untuk tayamum di dinding yang berada dibelakang tempat tidur. Air mataku mengalir tanpa bisa aku cegah ketika mengingat kembali tentang kemusyrikan yang sempat benar-benar aku percaya.
            “Kamu harus kembali mengucap kedua kalimat syahadat sandra, untuk mengembalikan ke islamanmu yang telah kamu tinggalkan.”
            “Bimbing aku,” vivi menatapku yang kini mengangguk yakin.
            Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah.” vivi menucapkannya dengan perlahan agar aku dapat mengikutinya.
As ha du alla ila ha ilallah”  ucapku dengan terbata, hatiku bergetar dengan kesaksian ku bahwa tiada tuhan selain Allah.
Asyhadu an-Na Muhammadarrasuulullah.” Vivi mengusap air mata diwajahku, namun ia lupa untuk menahan tetesan itu diwajahnya sendiri.
“As ha du ana muhammadar rasul lullah.” Aku menyelesaikan kalimat itu dengan keyakinan yang kuat bahwa hanyalah muhammad yang akan selalu menjadi utusan Allah hingga akhir jaman. Aku beruntung dapat tersadar kembali dari dunia gelap, aku benar-benar bersyukur bahwa Allah masih mengizinkanku untuk mengingat nama-Nya disetiap helaan nafasku.
Vivi dan kedua orang tuanya membimbingku untuk berdiri, namun aku benar-benar tidak sanggup untuk menahan bobot tubuhku sendiri. Akhirnya vivi membantuku mengenakan mukena dan shalat dalam posisi berbaring.
“Gerakkan tanganmu seperti yang aku lakukan. Nanti ibu akan membisikan bacaannya ditelingamu.” Vivi bangkit dan mengenakan mukenanya sendiri lalu memulai shalat malam.
Aku mendengar ibu membisikkan niatnya,
“usoli sunatan tahajudi rokataini lillah hita ala.” aku berusaha mengucapkannya sebaik yang aku bisa meskipun dengan terbata-bata.           Namun yang terdengar hanyalah suara lirih.
Aku mengangkat kedua tanganku membentuk lipatan diatas dada seperti yang vivi lakukan.
“Allahuakbar” Aku hanya memikirkan bagaimana Allah mampu memaafkan seluruh dosaku yang tak terampuni.
“Allahuakbar kabirau walhamdulillahhikasiro...” aku mengucapkankannya terlalu lirih hingga suaraku sendiri tidak dapat aku dengar, jadi aku memejamkan mataku agar aku bisa mengikuti bacaan ibu didalam hati. Tetapi saat aku menutup mata, aku justru melihat seluruh ruangan yang berwarna putih. Tanpa atap, tanpa lantai, seperti ruangan tanpa batas. Dan aku juga melihat ada orang yang tadi berada dalam mimpiku.
“Sebenarnya siapa kamu?” aku melontarkan pertanyaanku dengan pelan.
“Kamu sudah mengenalku sejak dulu. Tugasku adalah membawamu kembali.” Aku tertegun dengan perkataannya, tetapi aku menaruh telapak tanganku diatas tanganya yang terulur.
Aku terus berjalan mengikutinya ke suatu tempat yang tidak aku kenali. Saat dia membukakan pintu lalu menyuruhku masuk, aku melihat sinar yang sangat terang dengan percikan keindahan yang tak tertandingi.
Kini aku merasa telah berada ditempat semestinya, ditempat aku dapat berbincang dengan-Nya setiap saat tanpa mengenal waktu. Aku sudah merasa tidak memiliki alasan untuk kembali ke dunia tempat aku tinggal sebelumnya, karna disisi-Nya jugalah aku akan tinggal selamanya.

Tamat







1 comment: