Thursday, September 12, 2013

Untuk matahari senja yang terlukis


Ketika rintik bernyanyi dengan gema dan deru nafasmu
Aku menghirup lebih dari sekedar bayangan
Pertemuan dua hati lantunkan simfoni
Lalu sujudkan harap dan asa untuk aku kristalkan

Ku bekukan  waktu, seolah denganmu denting kesunyian akan berakhir
Melodi yang berbisik akan sayup dan memudar
Seolah kau adalah rengkuhku yang terpendam
Menyisipkan luka diantara bahagia

Titah sang fajar menghangatkan rindu berpadu
Menutup tabir perih hentakan risau ragu
Sekali lagi ku ucap lirih sebuah nama saat melihat langit
Terima kasih untuk senja dan gores senyummu




Dari ketiadaan

Matahari pribadiku



Bayang-bayang bulan yang semu itu terpantul dari langit
Cahaya datang, air mengalir di pipi pun mulai surut
Hampir saja kapal-kapal gelap berlabuh
Dan seberkas bayangan yang berkelebat ditengah permainan timpang para awan, mengoyak bola mataku

Kamu menakjubkan…

Itu seperti rambut yang disusun oleh barisan sinar
Ternyata itu kau, yang memecah angin, yang mengemosikan lautan
Tak bisa kah kau berhenti? Karena tak bisa ku terlelap hingga aku membisu dengan ucapan

Kau hujan bintang terindah diselatan

Sunday, August 25, 2013

Memangnya aku ini siapa?



Dalam keadaan normal mungkin aku tidak akan pernah memikirkan keputusan seperti ini, tapi ya Tuhan perasaan apa ini? Yang telah melumpuhkan segala akal sehatku. Namun ketika aku tahu semua ini salah, aku bukannya segera menyadarinya dan bergerak mundur, justru malah menikmati keselahan terindahan ini.

Hari ini sekian kalinya dia menghabiskan waktu denganku, yang notabenenya tidak memiliki status apapun dengannya. Dia justru meninggalkan kekasihnya dan memilih untuk mengobrol di teras rumahku yang sambil sesekali tertawa renyah karna canda yang aku buat sendiri. Terkadang aku menyadari ada beberapa tingkahku yang sangat diluar kewajaran ketika bersamanya, aku lebih menjadi diri sendiri ketika berada disampingnya ketimbang bersama lelaki yang pernah menjalin hubungan resmi denganku. Tapi dengannya? Tak pernah ada kejelasan, namun aroma tubuh dan senyuman yang kerap kali kulihat adalah alasan utama mengapa jantung ini sering memberontak tidak karuan.

Aku melihat dia berkali-kali mengabaikan panggilan diponselnya, aku tidak pernah tahu siapa yang menghubunginya. Dan aku juga tidak pernah berususah payah untuk bertanya, lagipula siapa aku? Tapi dengan sikapnya yang enggan menjawan telpon, dadaku diselimuti perasaan hangat, seolah dia benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan waktu bersamaku.

Aku sering bertanya-tanya, apakah dia memiliki getaran itu? Getaran yang memicu seluruh organ tubuhku memanas hanya karna melihat dia dari kejauhan. Aku terlalu naif memang, seolah dia bisa jatuh cinta pada wanita biasa yang bahkan takkan pernah dapat mengalahkan kecantikan kekasihnya. Jadi siapa aku dimatanya? Pertanyaan itu menguasai fikiranku tanpa ampun, seolah ada bom waktu yang akan meledak sebelum pertanyaan itu terjawab. Dan sepertinya memang tidak akan pernah terjawab.

Aku kerap di persalahkan oleh sahabat terdekatku atas keputusanku yang memilih untuk tidak menjauh darinya. Dan seolah aku bisa melakukan itu, baru membayangkannya saja dadaku terasa perih. Aku tahu perasaan ini sudah terlalu jauh dari yang bisa aku bayangkan sebelumnya, tapi aku menikmati setiap detik bersamanya. Jadi apakah aku salah untuk mempertahankan seseorang yang telah membuatku memiliki alasan untuk tersenyum?

Aku memang tidak terlalu mengenal kekasihnya, kekasih bima, dan aku memutuskan untuk tidak mengetahuinya, aku takut didera perasaan bersalah karena telah menghabiskan banyak waktu dengan pria yang telah memiliki seseorang. tapi apa aku bisa menghindar? Jawabannya adalah tidak! Aku tahu bima mencintai kekasihnya, tapi aku juga tahu bahwa dia menyayangiku. Namun satu hal yang pasti, aku tidak pernah tahu siapa yang akan akan dipilihnya ketika dia dipaksa untuk benar-benar memilih.

Senyumnya sore itu mengalahkan keindahan pelangi yang tergurat jelas diufuk barat, turun bersama matahari yang telah lelah. Aku tidak pernah berhenti mengaguminya, dan aku tidak habis pikir bahwa dia juga sepertinya merasakan hal yang sama padaku. Melambungkan harapanku jauh, aku merasa seolah-olah dia membutuhkanku. Tapi aku tidak mau berspekulasi terlalu jauh, toh dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara gamblang dihadapanku, meskipun dia sering menggenggam tanganku dengan hangat. Meskipun dia sering melakukan hal kecil yang menurutku menjelaskan perasaannya. Tapi aku tidak pernah tau apa yang dirasakannya terhadapku.

Lalu setiap kali membayangkan dia melakukan hal yang sama dengan kekasihnya, atau bisa jadi lebih romantis dibandingkan dengan yang dia lakukan terhadapku. Rasanya sama saja seperti memasukan hatimu kedalam air yang terlalu dingin, membuat kamu mati rasa. Dan  membayangkan ada seseorang yang berada terlalu dekat dengannya, dapat merengkuhnya tanpa takut melukai perasaan orang lain, sedangkan aku? tidak akan pernah bisa menggapai posisi seperti itu. Miris.

Cinta memang memilih, dan aku telah menjatuhkan pilihanku kepada seseorang yang masih sangat abu-abu, berada dipersimpangan antara hitam dan putih. Aku tidak akan pernah memaksanya untuk meninggalkan kekasihnya, namun aku dengan lancang mengharapkan dia pergi meninggalkan masa lalunya untuk mendekap masa depan denganku. Lalu seketika pertanyaan yang sama itu muncul dan mengantamku dengan keras pada kenyataan. Memangnya aku ini siapa?

Kepedihan



Aku masih saja tidak bosan menulis tentang cinta. Menurutku cinta memiliki teka-teki tersendiri yang setiap orang juga memiliki kunci jawaban yang berbeda. Dan tentu saja jika kita berbicara tentang cinta tidak mungkin terlepas dengan sesuatu yang bernama rasa sakit. Terkadang untuk mencintai seseorang, tanpa kita sadari kita menyakiti seseorang yang telah mencintai salah satunya secara diam-diam. Atau kita menyakiti diri sendiri dengan mencintai seseorang yang sudah mencintai orang lain. Ada pula yang terlibat dengan rasa sakit karna mencintai orang yang seharusnya tidak dia cintai karna berbatas perbedaan. Semua rasa sakit itu memiliki deskripsi yang sulit untuk dimengerti, bahkan oleh yang mengalami rasa sakit itu sendiri.

Kali ini aku mendengar lagi salah satu temanku yang masih saja tenggelam dengan rasa sakit karna masa lalu. Terdengar klise, namun aku tahu itu rumit. Berusaha menelan rasa sakit karna perpisahan itu bukan hal yang mudah. Tidak seperti omongan-omongan orang yang bicara “tidak perlu memikirkan orang yang tidak memikirkanmu” atau “cara terbaik melupakan seseorang adalah menemukan orang yang baru” mudah untuk dipahami, tapi apakah semudah itu menjalaninya? Semudah itukah tidak memikirkan seseorang yang sekian lama menjadi topic penting dalam percakapnnya dengan Tuhan, atau semudah itukah jatuh cinta dengan orang lain ketika hati kita sendiri belum sepenuhnya dapat menertawakan luka bekas ditinggalkan.

Setidaknya aku berusaha menjadi pendengar yang baik, berusaha memahami apa yang terjadi dengan  rasa sakit yang bukan miliku. Temanku masih menangis karna dia telah berusaha mencari orang yang dapat memperbaiki kerusakan dalam hatinya, menata hatinya yang telah lebih dulu ditinggalkan secara tiba-tiba, meskipun dia sendiri tahu, rasanya tidak mungkin. Seolah-olah hatinya adalah rumah yang telah ditinggali dan pemiliknya pergi dengan membawa kunci dan seluruh isinya. Rumah itu menjadi berdebu, usang, ditinggalkan secara paksa. Dan  seberapa kuat orang lain berusaha membenahi rumah itu, mereka hanya bisa membenahi bagian luarnya, merapihkan serpihan-serpihan yang tersebar berantakan dihalamannya, tanpa benar-benar bisa menyentuh bagian dalamnya, memperbaiki kerusakannya, yang masih saja berdebu daan usang, tidak bisa ditinggali siapapun karna kunci rumah itu hilang bersama kehangatan pemilik sebelumnyya. Maka seperti itulah hatinya, tidak akan pernah kembali utuh seperti semula.

Dia telah berusaha mencintai orang lain, dan mengelabui dirinya sendiri bahwa dia telah melupakan bayangan yang masih melekat erat dibelakang tubuhnya. Berusaha menertawai kebodohan karna telah mencintai orang yang salah, berusaha tersenyum dihadapan seseorang yang telah berusaha memperbaiki kerusakan dihatinya, dan tanpa sadar dia yang telah membuat kerusakan dihati orang itu karna tidak pernah benar-benar mencintai. Karna semakin kuat kita ingin melupakan, maka semakin kuat ingatan memutar kembali semua kenangan.

Aku masih berusaha memahami dan menerka apa yang akan terjadi pada temanku, mungkin suatu saat nanti, setelah bertahun-tahun menelan telak rasa kehilangan dan ditinggalkan, dia bisa kembali memliiki alasan untuk tersenyum dan menyapa manis kenangannya yang lalu, tanpa mengenali lagi rasa kepedihan yang menjalar disekujur aliran darahnya. Atau mungkin, setelah sekian lama, dia akan tetap berteman baik dengan kesedihan, dan lukanya menjadi permanen dan tidak bisa diperbaiki, lubang dihatinya akan terus terbuka dan meneteskan kepedihan. Namun aku sendiri yakin, dia telah memilih jalannya sendiri untuk semakin kuat menahan rasa sakitnya. Entah dengan cara melupakan, atau memeluk erat kenangan.

Sunday, July 28, 2013

Rasa Ini

Mengingat beberapa potong adegan beberapa hari lalu, ketika dengan nyaman kamu duduk disisiku dan tersenyum dengan setiap candaan yang kami ciptakan. tubuhku bersisian hangat dengan tubuhmu, menjadi sebuah getaran yang memang pernah aku rasakan, namun sempat terlupakan. aku menyenderkan kepalaku didekatmu, merasakan hangat aliran darah yang tenggelam tidak jauh dari situ.

Tanganku yang tak jauh dr tanganmu menahan diri untuk tidak menggenggamnya erat, seolah aku sedang bergulat dengan naluri dan rasa egoku, tapi sunggu aku merasakan semuanya lagi, seperti dulu, dulu yang tak pernah menjadi kita. dan kini aku dengan lancang menginginkanmu 'lagi'?

Aku menatapmu dan mencoba mendeskripsikannya, kamu pintar, dan wajahmu mendukung penampilanmu, tentu saja kamu dipuja banyak wanita. lalu aku siapa? teman yang mugkin akan selalu kau anggap teman. tidak lebih.

Aku teringat saat pertama kali kamu menggenggam tanganku didepan banyak orang. aku juga mengingat saat kamu membangun percakapan hanya untuk tetap ada disisiku. hah ini lucu, aku menyebutkan segalanya seolah kita pernah bersama, seolah pernah ada kata 'kita'.

Aku mengambil wudhu dan pergi untuk menghadapNya, ku lihat kau juga melakukan hal yang sama, dan lagi-lagi hatiku menyuarakan keinginan yang sebenarnya sulit. aku membayangkan kamu melafadzkan ayat-ayatNya didepanku lalu bersujud bersama. menjadi imamku, menjadi masa depanku. aku menghempaskan segalanya, sudahlah, aku terlalu jauh menginginkan hal itu.

Dan saat aku melihatmu tertidur, ini menjadi sensasi baru yang mungkin aku bisa aku rasakan lain waktu. aku berharap ketika kau memejamkan mata, tersirat sedikit bayanganku yang mungkin terekam sekian lama. aku benar-benar membiarkanku untuk berharap. seperti mencintai diam-diam, dan berusaha menjaganya agar itu tetap menjadi milikku sendiri.

Setelah malam itu kau rajin mengirimiku pesan singkat, membahas kejadian saat pertemuan kemarin. kamu bilang kamu takut merasakan sesuatu terhadapku. kamu takut? sedangkan aku sudah melakukannya. membiarkan rasa ini menjadi lebih berarti. rasa ini tidak akan pernah seimbang jika salah satu diantaranya enggan masuk kedalam suatu kisah. tidak akan pernah seimbang jika kamu tidak mencoba untuk sejenak memandangku dan rasakan segalanya.

Namun lagi-lagi aku terjebak oleh perasaanku sendiri, dan membuatnya semakin sulit. membuat aku berharap pesan singkat mu sudah ada ketika aku membuka ponsel, membuat aku tersenyum setiap kali membacanya. tapi aku bahagia, bahagia meskipun aku tidak pernah tau apa yang kamu rasakan, bahagia hanya karna kehadiranmu itu sudah cukup untukku, jadi kenapa aku harus menginginkan yang lebih?


Tapi salahkah aku menanti?

Thursday, May 2, 2013

Rindu

Aku merindukannya dengan caraku. Berjalan terlalu pelan antara kenangan. bukankah seharusnya aku menepi? bukankah semua telah usai?
kenapa aku masih saja bermimpi tentang langit yang menyuguhkan cerita kita?
aku tidak mengerti, entah mati rasa, atau rasa ini kerap kali mematikan perasaanku.
aku tetap merindukannya, walau dia telah menghapus semua kisah.

Friday, April 12, 2013

Persembahan tulus dari yang terkasih untuk pelangi dihidupnya.. (III)



1 april 2012

Kini aku harus menelan pahit akan mencintainya selama ini. Namun kudapati bahwa aku bisa bertahan. Aku sadar, aku merasakan kepedihan itu. perasaan kehilangan yang terpancar keluar dari dadaku, mengirimkan gelombang kesakitan kesekujur tubuhku. Tapi semua itu masih bisa aku tahan. Aku bisa melewatinya. Walaupun rasanya kepedihan itu tidak melemah seiring berjalannya waktu, tapi aku semakin kuat untuk menahannya. Dan setelah apa yang telah dia lakukan, perasaan ini masih saja tertanam terlalu kuat dengan segala rapuh yang aku miliki.

Aku tersadar tidak ada apa-apa yang bisa dicari, atau bahkan tidak ada yang bisa ditemukan didalam diriku. Karna kini tak pernah ada apa-apa lagi untukku. Tidak ada apa-apa kecuali kehampaan yang dia tinggalkan.

Mungkin jika dia mengabaikanku dan benar-benar menancapkan perih ini dengan dalam aku akan lebih mudah untuk membencinya. Akan lebih mudah untuk dapat mencintai orang lain yang datang silih berganti. Tapi tidak ada celah, tidak ada ruang yang sanggup mengalahkan tempat yang mungkin sekarang telah berdebu. Tapi dia masih saja ada dihidupku, seolah dia tidak pernah benar-benar meninggalkanku. Seolah pedulinya adalah nafas untukku.

Ini sulit, lebih dari pada yang bisa dia bayangkan.
 ***

10 oktober 2012

Bayangannya masih mengekor dibalik punggungku kemanapun aku pergi. Menciptakan tempat sendiri di belakang tubuhku yang masih bisa aku tengok namun sudah tak sanggup aku raih. Ya, dia memang hanya sekedar bayangan.

Tidak seperti seseorang yang saat itu berada disampingku dan menggengam tanganku dengan kuat dibalik setiap binar matanya. Berharap aku akan tetap berada disisinya. Ya, aku tahu hidupku harus tetap berjalan dengan atau tanpa sosok masa lalu yang kerap aku rindukan sepenuh hati.

Dengan segala bimbang dan ragu, aku tersenyum dan mengganguk malam itu. diringi oleh hujan diluar dia memelukku erat. 
Dan tepat ditanggal yang sama, meski dibulan yang berbeda, aku kembali berjanji untuk belajar mencintai orang lain mulai saat ini..
 ***

Epilog 2013

aku dapat mencintainya. Ya, meski dengan segala sisi yang berbeda. Aku mulai membutuhkan sosoknya yang menutup luka hati dengan rapat, meski tidak sanggup mengembalikannya seperti sedia kala. Masa laluku memang hanya masa lalu, meskipun masa depanku juga belum dapat aku raba karna perbedaan yang masih membelit hubunganku. Tapi apa yang dapat aku perbuat ? meratapi ? tidak, aku harus tetap berjalan dan berpijak membawa hati ketempat yang seharusnya. Dan mendoakan masa laluku dengan ikhlas sambil menyampaikan pelukan perpisahan.