1 april
2012
Kini
aku harus menelan pahit akan mencintainya selama ini. Namun kudapati bahwa aku
bisa bertahan. Aku sadar, aku merasakan kepedihan itu. perasaan kehilangan yang
terpancar keluar dari dadaku, mengirimkan gelombang kesakitan kesekujur
tubuhku. Tapi semua itu masih bisa aku tahan. Aku bisa melewatinya. Walaupun
rasanya kepedihan itu tidak melemah seiring berjalannya waktu, tapi aku semakin
kuat untuk menahannya. Dan setelah apa yang telah dia lakukan, perasaan ini
masih saja tertanam terlalu kuat dengan segala rapuh yang aku miliki.
Aku
tersadar tidak ada apa-apa yang bisa dicari, atau bahkan tidak ada yang bisa
ditemukan didalam diriku. Karna kini tak pernah ada apa-apa lagi untukku. Tidak
ada apa-apa kecuali kehampaan yang dia tinggalkan.
Mungkin
jika dia mengabaikanku dan benar-benar menancapkan perih ini dengan dalam aku
akan lebih mudah untuk membencinya. Akan lebih mudah untuk dapat mencintai
orang lain yang datang silih berganti. Tapi tidak ada celah, tidak ada ruang
yang sanggup mengalahkan tempat yang mungkin sekarang telah berdebu. Tapi dia
masih saja ada dihidupku, seolah dia tidak pernah benar-benar meninggalkanku. Seolah
pedulinya adalah nafas untukku.
Ini
sulit, lebih dari pada yang bisa dia bayangkan.
***
10
oktober 2012
Bayangannya
masih mengekor dibalik punggungku kemanapun aku pergi. Menciptakan tempat
sendiri di belakang tubuhku yang masih bisa aku tengok namun sudah tak sanggup
aku raih. Ya, dia memang hanya sekedar bayangan.
Tidak
seperti seseorang yang saat itu berada disampingku dan menggengam tanganku
dengan kuat dibalik setiap binar matanya. Berharap aku akan tetap berada
disisinya. Ya, aku tahu hidupku harus tetap berjalan dengan atau tanpa sosok
masa lalu yang kerap aku rindukan sepenuh hati.
Dengan
segala bimbang dan ragu, aku tersenyum dan mengganguk malam itu. diringi oleh
hujan diluar dia memelukku erat.
Dan tepat ditanggal yang sama, meski dibulan yang berbeda, aku kembali berjanji untuk belajar mencintai orang lain mulai saat ini..
***
Epilog
2013
aku
dapat mencintainya. Ya, meski dengan segala sisi yang berbeda. Aku mulai
membutuhkan sosoknya yang menutup luka hati dengan rapat, meski tidak sanggup
mengembalikannya seperti sedia kala. Masa laluku memang hanya masa lalu,
meskipun masa depanku juga belum dapat aku raba karna perbedaan yang masih
membelit hubunganku. Tapi apa yang dapat aku perbuat ? meratapi ? tidak, aku
harus tetap berjalan dan berpijak membawa hati ketempat yang seharusnya. Dan mendoakan
masa laluku dengan ikhlas sambil menyampaikan pelukan perpisahan.