Pagi itu, sehari setelah bersama petra dipulau samalona, aku
membawa gogoso yang akan aku jual hari ini. berharap hari ini akan dapat
terulang sama manisnya dengan kemarin. Aku mencari petra keseluruh antero pantai losari, bahkan
menanyakannya pada petugas pantai hari itu, namun tak ada hasil. Akhirnya aku
pergi ke pulau samalona untuk mencarinya, tapi pulau itu dipenuhi oleh
wisatawan asing. Tak sedikitpun aku menemukan tanda-tanda petra ada disana.
Akhirnya aku kembali pantai losari dan memutuskan bahwa petra hanyalah lelaki
pecundang yang tak mungkin akan kembali lagi kesini untuk menemuiku.
Aku terlalu banyak bermimpi.
Aku mencoba memikirkan ulang apa yang terjadi kemarin. Dan
apa yang harus aku lakukan kedepannya. Tentu saja aku harus tetap berjualan
gogoso jika memang aku dan ibu masih ingin bertahan hidup. Dan melupakan suatu
hal yang muluk tentang cinta, tentang kebahagian jika memiliki seseorang. Aku
berusaha menepis angan-angan itu.
***
Sudah 6 bulan. Dan aku masih saja menatap pulau samalona dari
pesisir pantai losari. Aku berusaha untuk tidak pergi kesana. Melihat
kenanganku dibalik pepohonan warna warni yang tersimpan rapih dipulau itu.
Aku terlalu naif, mempercayai orang kota yang baru aku kenal.
Dan yang lebih bodoh, aku menyadari bahwa aku mencintainya! Meski itu rasa yang
baru untukku, tapi aku tak mungkin bisa menyangkal. Siluet demi siluet tentang
petra aku singkirkan setiap harinya, berusaha untuk tidak memikirkan orang yang
hanya dalam sehari dapat merubah hidup dan perasaanku sampai sekarang.
Aku tak berani menceritakan ini kepada ibu. Sudah terlalu
banyak beban yang ibu tanggung untuk kehidupanku. Aku tidak mungkin
menceritakan hal sepele mengenai kisah cintaku yang singkat di pulau samalona
beberapa bulan yang lalu.
Aku mati rasa, mati rasa akan air mata yang hingga kini masih
membasahiku setiap malam.
Karena dulu dilangitku gelap, namun ada banyak bintang.
Ketika petra melewati langitku bagaikan meteor, langitku terbakar sinarnya,
penuh warna, terdapat keindahan. dan ketika meteor itu pergi lalu jatuh diatas
cakrawala, semua kembali gelap. aku sudah tidak bisa melihat apapun lagi, karna
aku sudah disilaukan oleh cahayanya. Dan tidak ada alasan apapun untuk kembali
melihat bintang yang lain.
Aku diam dan menatap ombak yang datang. mengusik ketenangan
pasir-pasir lalu pergi, tetapi ombak tak pernah lupa untuk kembali.
“aku punya seribu warna untuk melukiskan tintanya dihatimu, Malaureng.”
Aku tertegun mendengar suara itu, mengenal bisiknya yang selama ini aku buang
jauh-jauh. Namun aku tidak berani untuk menoleh, itu hanyalah sebuah kenangan
dan halusinasi yang terbentuk dari apa yang aku fikirkan.
Aku terdiam, tidak tahan untuk mencari asal suara yang memang
benar-benar terdengar nyata. Aku menoleh dan tak seorangpun yang ada dibalk
bahuku. Aku menghembuskan nafas kecewa.
“maukah kamu menjadi seorang ibu untuk anak-anak ku kelak ?” seketika
aku menoleh kedepan dan melihat petra sedang tertunduk dan mengamati wajahku
yang terlihat sangat terkejut. Ini bayangan, tidak mungkin. Aku mematung dan
menatap sosok yang sangat mirip dengan petra dihadapanku ini.
“kamu terlalu marah? Hingga tidak mau menjawabnya sama
sekali?” dia menyentuh wajahku dengan lembut. Aku menggeleng-gelengkan kepala
dan menyadari bahwa ini nyata. Bukan bayanyan, bukan halusinasi belaka. Ini
petra, malaikat dengan pesona yang hingga kini masih tidak aku mengerti keindahannya.
aku terpaku dimatanya yang kini menatapku, hanya beberapa senti didepan
wajahku.
“malaureng?” suaranya terdengar panik dengan diamku yang
berkepanjangan. Aku mencoba mengumpulkan detak jantungku yang kini berhamburan.
Seketika aku memeluk tubuh petra.
Menghirup aromanya, berusaha mengenali surga apa yang sedang berada didalam
pelukku. Dia mengusap rambutku lembut, dan tak henti-hentinya meminta
maaf. Aku menarik kepalaku dari dadanya dan kembali menatap wajahnya.
“jadi?” dia menarik sebelah halisnya sambil tersenyum penuh
arti.
Aku tersenyum, “ya.” Lalu kembali menariknya dalam dekapan
hingga petra tak mungkin lagi pergi, jika tanpa aku.
Sore itu, di pantai losari, telah tercipta surga yang luar
biasa indah untukku. Dengan bisik angin yang menyapa kami, seolah mengerti
telah adanya janji yang diucapkan antara sepasang insan di kota angin mamiri
ini.
Kami, sepasang tangan yang telah terpaut, bukan hanya saling
melengkapi, namun juga saling menguatkan antara perbedaan.
Aku menginginkannya, dengan segala keterbatasan yang aku
miliki. Aku mengaguminya dengan segala kemampuan. Aku mencintainya, hingga
ketika dia tertidur, kelopak matakulah yang tertutup.
End
aku kira gak ada kelanjutannya ternya ada... bagus sekali tulisan kita ji :)
ReplyDelete