Saturday, December 29, 2012

Surga dipulau Samalona III

Pagi itu, sehari setelah bersama petra dipulau samalona, aku membawa gogoso yang akan aku jual hari ini. berharap hari ini akan dapat terulang sama manisnya dengan kemarin. Aku mencari petra keseluruh antero pantai losari, bahkan menanyakannya pada petugas pantai hari itu, namun tak ada hasil. Akhirnya aku pergi ke pulau samalona untuk mencarinya, tapi pulau itu dipenuhi oleh wisatawan asing. Tak sedikitpun aku menemukan tanda-tanda petra ada disana. Akhirnya aku kembali pantai losari dan memutuskan bahwa petra hanyalah lelaki pecundang yang tak mungkin akan kembali lagi kesini untuk menemuiku.
Aku terlalu banyak bermimpi.

Aku mencoba memikirkan ulang apa yang terjadi kemarin. Dan apa yang harus aku lakukan kedepannya. Tentu saja aku harus tetap berjualan gogoso jika memang aku dan ibu masih ingin bertahan hidup. Dan melupakan suatu hal yang muluk tentang cinta, tentang kebahagian jika memiliki seseorang. Aku berusaha menepis angan-angan itu.

***

Sudah 6 bulan. Dan aku masih saja menatap pulau samalona dari pesisir pantai losari. Aku berusaha untuk tidak pergi kesana. Melihat kenanganku dibalik pepohonan warna warni yang tersimpan rapih dipulau itu.

Aku terlalu naif, mempercayai orang kota yang baru aku kenal. Dan yang lebih bodoh, aku menyadari bahwa aku mencintainya! Meski itu rasa yang baru untukku, tapi aku tak mungkin bisa menyangkal. Siluet demi siluet tentang petra aku singkirkan setiap harinya, berusaha untuk tidak memikirkan orang yang hanya dalam sehari dapat merubah hidup dan perasaanku sampai sekarang.

Aku tak berani menceritakan ini kepada ibu. Sudah terlalu banyak beban yang ibu tanggung untuk kehidupanku. Aku tidak mungkin menceritakan hal sepele mengenai kisah cintaku yang singkat di pulau samalona beberapa bulan yang lalu.

Aku mati rasa, mati rasa akan air mata yang hingga kini masih membasahiku setiap malam.

Karena dulu dilangitku gelap, namun ada banyak bintang. Ketika petra melewati langitku bagaikan meteor, langitku terbakar sinarnya, penuh warna, terdapat keindahan. dan ketika meteor itu pergi lalu jatuh diatas cakrawala, semua kembali gelap. aku sudah tidak bisa melihat apapun lagi, karna aku sudah disilaukan oleh cahayanya. Dan tidak ada alasan apapun untuk kembali melihat bintang yang lain.

Aku diam dan menatap ombak yang datang. mengusik ketenangan pasir-pasir lalu pergi, tetapi ombak tak pernah lupa untuk kembali.

“aku punya seribu warna untuk melukiskan tintanya dihatimu, Malaureng.” Aku tertegun mendengar suara itu, mengenal bisiknya yang selama ini aku buang jauh-jauh. Namun aku tidak berani untuk menoleh, itu hanyalah sebuah kenangan dan halusinasi yang terbentuk dari apa yang aku fikirkan.

Aku terdiam, tidak tahan untuk mencari asal suara yang memang benar-benar terdengar nyata. Aku menoleh dan tak seorangpun yang ada dibalk bahuku. Aku menghembuskan nafas kecewa.

“maukah kamu menjadi seorang ibu untuk anak-anak ku kelak ?” seketika aku menoleh kedepan dan melihat petra sedang tertunduk dan mengamati wajahku yang terlihat sangat terkejut. Ini bayangan, tidak mungkin. Aku mematung dan menatap sosok yang sangat mirip dengan petra dihadapanku ini.

“kamu terlalu marah? Hingga tidak mau menjawabnya sama sekali?” dia menyentuh wajahku dengan lembut. Aku menggeleng-gelengkan kepala dan menyadari bahwa ini nyata. Bukan bayanyan, bukan halusinasi belaka. Ini petra, malaikat dengan pesona yang hingga kini masih tidak aku mengerti keindahannya. aku terpaku dimatanya yang kini menatapku, hanya beberapa senti didepan wajahku.

“malaureng?” suaranya terdengar panik dengan diamku yang berkepanjangan. Aku mencoba mengumpulkan detak jantungku yang kini berhamburan.  Seketika aku memeluk tubuh petra. Menghirup aromanya, berusaha mengenali surga apa yang sedang berada didalam pelukku. Dia mengusap rambutku lembut, dan tak henti-hentinya meminta maaf. Aku menarik kepalaku dari dadanya dan kembali menatap wajahnya.

“jadi?” dia menarik sebelah halisnya sambil tersenyum penuh arti.

Aku tersenyum, “ya.” Lalu kembali menariknya dalam dekapan hingga petra tak mungkin lagi pergi, jika tanpa aku.

Sore itu, di pantai losari, telah tercipta surga yang luar biasa indah untukku. Dengan bisik angin yang menyapa kami, seolah mengerti telah adanya janji yang diucapkan antara sepasang insan di kota angin mamiri ini.

Kami, sepasang tangan yang telah terpaut, bukan hanya saling melengkapi, namun juga saling menguatkan antara perbedaan.

Aku menginginkannya, dengan segala keterbatasan yang aku miliki. Aku mengaguminya dengan segala kemampuan. Aku mencintainya, hingga ketika dia tertidur, kelopak matakulah yang tertutup.


End

1 comment:

  1. aku kira gak ada kelanjutannya ternya ada... bagus sekali tulisan kita ji :)

    ReplyDelete