Kakiku sudah lelah menjajakan gogoso disekitar pantai, tapi
aku belum bisa mendapatkan hasil apa-apa. Aku malah duduk terdiam di sebuah
akar pohon dekat pantai sambil mencoba menghirup aroma air laut yang khas, kota
kelahiranku, sumber kehidupanku, pantai losari di kotta makassar.
Ibu terlalu tua untuk bekerja seperti ini, kakinya sudah
rapuh dengan segala masalah yang ia tanggung sendiri. Aku sudah putus sekolah sejak SMP dan
berusaha membantu ibu dengan berjualan gogoso*
dan bayao kannasa* disekitar pantai
losari.
Sudah jam 2 siang tetapi belum ada seorang pun yang membeli
daganganku, dahaga sudah menguasai namun aku sama sekali tidak membawa uang. Aku bangkit dan kembali menjajakan gogoso
kepada para turis yang tengah menikmati sinar matahari dan semilir angin di selatan
sulawesi.
Matahari mulai menuju arah barat saat aku berhenti di sebuah
kelompok wisatawan dari luar kota, yang sepertinya dari jakarta. Mereka
memanggilku, dan bertanya apa yang aku jual. Aku menjawabnya dengan ramah agar
mereka tertarik untuk membeli.
“30 ribu dapat berapa?” sebuah suara lelaki yang paling dekat
denganku bertanya. Aku menghitung jumlah gogoso dan bayao kannasa yang aku
bawa.
“semuanya daeng” aku menjawabnya. Dia mengeluarkan selembar
uang 50ribu dan memberikannya kepadaku. “semuanya yah.” Senyum terbentuk
dibibirnya yang penuh. Aku sempat menyelami senyum tersebut, namun aku segara
membungkuskan semua daganganku kedalam plastik.
“tarima kasi.” Aku memberikan senyumku dan lantas pergi dari
tempat itu sebelum aku melirik kembali ke wajah itu.
***
Aku membenamkan diri ke tempat tidur yang tipis dan mencoba
melepaskan rasa lelah. Nanti subuh aku harus kembali bangun dan membuat gogoso
untuk dijual besok. Aku terbayang wajah ibu ketika aku bilang semua daganganku
habis hari ini, meskipun aku tidak bilang siapa yang membelinya. Ibu menerima
uang itu dengan syukur yang teramat sangat.
Aku tidak berniat untuk menjual dagangan ku di pantai losari
hari ini, karna bagaimana tidak? Wajah
laelaki itu membayangi mimpiku tadi malam. Aku tidak ingin bertemu lagi dengan
orang itu. Menurutku, cinta itu tidak mungkin menjamah orang sepertiku, apalagi
cinta pada pandagan pertama.
Aku memutuskan untuk ke pulau samalona, pulau disebrang
pantai losari yang dapat ditempuh hanya 5 menit bila naik speed. Aku biasa
menumpang dengan seorang temanku yang yang biasa menyewakan speed pada
turis-turis yang juga ingin pergi ke pulau samalona.
Pulai ini terkenal dengan wisata terumbu karangnya, sehingga
banyak turis yang melakukan diving dan snorkeling. Aku mencoba menjajakan
dagangan disini karna ini adalah hari minggu, jadi pasti banyak turis yang
pergi ke pulau samalona. Dan tentu saja karna satu alasan yang berbeda.
Setelah sampai aku duduk disebuah batu karang yang menjorok
kearah laut. Ternyata masih terlalu pagi, pulau ini masih kosong dengan pasir
pantai yang berwarna putih gading. Sinar matahari menembus beberapa helai pohon
kelapa yang seperti enggan diganggu oleh angin. Aku mengagumi pulau ini, kota ini, kota yang memberikan aku air
untuk hidup, tanah yang aku pijak untuk mengawali hari seperti pagi ini.
Dikejauhan, tampaknya ada satu lagi speed yang menuju ke
pulau samalona. Aku berusaha mengamati siluet wajah para wisatawan itu dari
sini. Dan tiba-tiba saja mataku terkunci pada satu wajah, aku sadar akan hal
itu, tapi bukannya berpaling aku justru menikmati keindahan dari setiap lekukan
wajahnya, matanya yang tajam dan menyimpan sesuatu, bibirnya yang tersenyum
melihat pemandangan pulau kecil berwarna-warni disebelah barat daya pantai
losari ini. aku mulai mengaguminya dalam
diam.
Sebelum kapal itu sampai, aku berbegas bangun dan bersembunyi
dibalik sebuah pondok yang menyuguhkan beberapa makanan khas makassar lain. Aku
mengamati dia yang tersembunyi oleh beberapa orang temannya. Tiba-tiba saja
bibirku membentuk segaris senyuman. Oh Tuhan, apa-apan ini? Aku membalikan badan dan berusaha menenangkan diri. Aku
merasa tubuhku lemas dan jantungku seakan ingin melompat keluar untuk mengejar
laki-laki itu. Aku rasa memang ada yang salah dengan diriku hari ini.
“mba, gogoso dan telurnya masih ada?” sebuah suara dari balik
pundak mengagetkanku, tapi seolah aku sudah merekam setiap frekuensi suaranya,
aku tahu siapa yang yang berbicara denganku kali ini. dan aku masih terpaku
ketika dia melangkahkan kakinya kehadapanku dan menatapku sambil tersenyum
seperti kemarin. Astagaaaaaa, makhluk apa dia? Terlalu indah untuk
dikategorikan sebagai manusia, namun terlalu nyata bila dikategorikan sebagai
malaikat. Dia melirik kekeranjang yang aku bawa, dan melihat bahwa
daganganku masih penuh. Aku kembali tersadar dan berusaha memahami situasi yang
tak terduga seperti ini.
“ada daeng,” jawabku gugup. Bodoh sekali, mana pernah aku
seperti ini sebelumnya? Aku merasa benar-benar tidak enak badan.
“ayo ikut saya, gogosomu yang kemarin enak sekali. Aku tadi
mencari di losari tapi tidak ada yang menjual lagi selain....” dia melihat
kearahku seperti menanyakan nama, tapi sebelum menjawab aku masih sempat
tenggelam dimatanya yang hitam.
“marauleng.” Aku menjawab pertanyaannya sambil mengikuti arah
lelaki itu membawaku.
“berapa umurmu?” tiba-tiba dia bertanya sambil melangkahkan
kakinya diatas pasir pantai.
“19 tahun.” Aku tersenyum menjawab pertanyaannya kali ini.
dia terdiam dan menganggukan kepala mendengar jawabanku. Entah apa yang dia
pikirkan kali ini tentang umurku. Dia membawaku kesebuah tenda yang penuh sesak
dengan teman-temannya seperti kemarin.
“hey, lapar kan ? nih gue bawa penjualnya langsung kesini!”
dia sedikit berteriak memanggil teman-temannya. Untuk beberapa saat aku terlalu
sibuk memberi beberapa bungkus gogoso dan bayao kannasa, namun dia tetap berada
disampingku, tidak pergi.
“kenapa kamu berjualan seperti ini?” dia kembali bertanya
setalah semua daganganku habis tak bersisa. Aku menundukan kepala setiap kali
mendengarnya. terlalu sering aku dilontarkan pertanyaan seperti ini. dan aku
sudah hafal apa yang harus aku jawab.
“ekonomi.” Aku menjawabnya. Dia hanya menatapku diam. Aku tak
habis fikir, apa yang dia inginkan? Apakah hidupku penting untuk dia ketahui?
Aku memikirkannya terlalu jauh, terlalu berangan-angan. Barang kali dia
bertanya karna merasa kasihan padaku, seorang gadis lusuh dari selatan
sulawesi. Setiap pagi harus berjalan menjajakan dagangan hanya untuk menghidupi
dia dan ibunya.
“ikut aku,” dia menarik tanganku yang masih memegang
keranjang. Aku berusaha mengikuti langkahnya dengan gontai. Kepalaku pening
karna mendapat sentuhan mendadak dari tangan yang bahkan tidak aku ketahui
siapa namanya. Dia berbalik arah, melewati beberapa pondok dan penginapan, dia
bergegas mengajakku ke selatan pulau samalona.
Disini, yang terlihat hanyalah batu karang sisa-sisa jaman
prasejarah, air laut yang biru, cahaya kekuningan, aku dan dia. Aku berusaha
untuk tidak lupa bagaimana caranya menarik nafas, berusaha mengingat bagaimana
caranya mengedipkan mata setiap kali bertemu dengan wajahnya yang tegas namun
misterius. Dia menyuruhku duduk diatas sebuah perahu nelayan yang sepertinya
sudah rusak dimakan waktu. Aku langsung menurut karna tidak mau dia pergi dari
sini.
“namaku, Petra.” Aku menoleh kearahnya yang kini sedang
menatap laut tak berujung. “aku besar dikota metropolitan yang sesak dengan
manusia. Yang penuh dengan aktifitas dan keegoisan. Aku memutuskan untuk
berlibur ke makassar karna ini adalah kota kelahiranku.”
Aku berusaha mencari-cari makna dari apa yang telah dia
katakan, namun matanya tidak mengisaratkan apapun, terlalu tertutup untuk orang
luar sepertiku.
“aku tidak pernah tau kehidupan disini seperti apa, aku
selalu diberi kemewahan sejak kecil. Ketika aku betemu kamu kemarin, seorang
gadis cantik yang terlihat sangat lelah untuk menjajakan dagangannya pada wisatawan
lokal disini, aku mulai mengerti perbedaan. Perbedaan tentang memandang hidup,
tentang bagaimana kita berusaha.”
Aku masih terdiam mendengar ceritanya yang panjang. Ungkapan
dan tanggapan dirinya tentang diriku, dan apa yang dia dapatkan setelah melihat
aku. Aku menarik nafas panjang.
“aku hanya memiliki seorang ibu yang kini sudah tua untuk
menafkahiku. Aku tidak ingat bagaimana bahagianya memiliki ayah karna dia
meninggalkan aku dan ibu ketika aku masih belum mampu untuk mengucapkan kata
ayah. Aku dibesarkan dengan cinta orang tua tunggal, dengan sesuap nasi yang
terkadang kurang untuk kami berdua. Yang aku inginkan saat ini hanyalah membuat
ibu bahagia”
Semilir angin menjawab diam kami dengan nyaman. Pulau samolo
yang indah telah membuka apa yang telah aku pendam selama ini. diam-diam air
mataku bergulir. Aku tidak mengerti dengan keadaanku sekarang. Aku tidak tahu
apa yang aku rasakan. Petra mengusap air mataku.
“aku mengerti sekarang.” Matanya menatapku dengan lekat. Dia
beranjak dari tempat duduknya, dan kembali membawaku ke tempat dia mendirikan
tenda.
Dipulau ini, pulau samalona, tempat misteri karamnya sejumlah
kapal, kini menjadi tempat karamnya sebuah hati gadis lugu suku bugis, hati
marauleng.
***
Aku merasa tidak pantas berada disamping teman-teman petra
yang berpakaian bagus, trendi, tidak kampungan seperti aku. Namun petra tetap
mengajakku untuk snorkeling di pulau ini bersama teman-temannya. Iya telah
menyewakan alat-alat snorkeling dan membantuku memasang selang udara dan
pelindung mulut. Wajahnya terlalu dekat, hanya beberapa senti dari wajahku
yang kini mulai memerah. Aku berusaha untuk menarik nafas panjang agar tidak
limbung disaat seperti ini. suara-suara lain selain suaranya hanya menjadi
penghias hari itu.
Meskipun aku tinggal dipelataran laut, setiap pagi melihat
matahari terbit di ujung pantai dengan segala keindahannya, namun tak pernah
sekali pun aku merasakan snorkeling. Karna menyewa alatnya pun aku tak akan mampu. Masih pukul 9 pagi, cahaya matahari belum berada di puncak
peraduannya. Aku melihat laut yang akan aku selami bersama petra. Aku melirik
kearahnya dan melihat dia sedang tersenyum. Aku gugup bukan main. Aku takut
degub jantungku ini sampai terdengar olehnya.
Dia menyelam terlebih dahulu. Aku ragu-ragu menyambut tangannya
yang terulur dari dalam laut. Tapi tentu saja aku memberikan tanganku padanya
agar kami dapat menyelam dan melihat biota laut pulau samalona. Didalam sini aku bisa melihat Kapal-kapal yang karam telah
berubah wujud menjadi karang dan menjadi 'rumah' bagi ratusan biota laut yang
beraneka ragam dan jenis serta warna yang sangat mengagumkan. Keindahan inilah
yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk datang berenang di antara
bangkai-bangkai kapal karam tersebut. Warna warni didalamnya sangat indah dan
membuatku terkagum-kagum, namun keindahan petra dengan rambutnya yang basah
tersapu air laut tak akan bisa menandingi keindahan lainnya.
Kami menyelami laut kira-kira 30 menit lalu memutuskan untuk
naik kembali ke daratan. Dipulau ini, hanya terdapat 16 kepala keluarga yang
menghuni pulau samalona dengan tetap. Namun ada banyak penginapan dan
restaurant yang dibangun sebagai fasilitas wisata dari kota makassar. Setelah
berganti pakaian aku, petra dan teman-temannya duduk di perkemahan sambil menunggu
ikan bakar yang dipesan dari rumah makan yang ada disini.
Kami semua sibuk menikmati hidangan yang ada disini.
Teman-teman petra sepertinya tidak peduli dengan adanya aku atau tidak, lagi pula apa yang bisa aku harapkan dari
sekelompok orang kota ini jika bukan petra yang membawaku?
Setelah selesai, aku dan petra duduk berhadapan kearah laut,
sambil sesekali tersenyum saling menatap satu sama lain. Pasir pantai pulau
samolona yang hangat menjadi sejarah pertemuan kami hari ini. aku sempat
memikirkan ibu yang sedang ada dirumah, namun aku memusatkan kembali fikiranku
ke pulau seribu warna ini, dengan malaikat yang tengah duduk disampingku. Kami berbincang tentang masa kecilku, tentang aku yang selalu
menghabiskan waktu di pantai losari sambil melihat wisatawan asing yang silih
berganti.
Aku menceritakan bahwa aku belum pernah melihat kota lain selain kota
makassar, dan belum pernah melihat pantai lain selain pantai losari. Petra pun
bercerita tentang kehidupannya yang singkat disini, hanya 3 tahun, dan hanya sedikit
yang dapat diingat oleh petra tentang kota ini. Orang tuanya selalu memberikan
apa yang dia butuhkan, namun tak pernah memberikan dia kasih sayang semenjak
mereka tinggal di jakarta. Lalu petra bercerita bahwa dia memiliki keinginan
untuk menikah di kota kelahirannya.
Aku semerta-merta menahan hatiku agar tidak terasa sakit
mendengarnya. Aku berfikir bahwa mungkin petra sudah memiliki calon istri yang
sepadan dengannya. Yang bisa ia bawa kesini lalu dinikahinya. Lagi pula, siapa
aku? berani-beraninya berharap bahwa petra kelak akan menjadi seseorang bagi
ku. Kalaupun itu terjadi, mungkin hubungan itu takkan pernah seimbang. Aku,
gadis yang terbuang, bahkan oleh ayahku sendiri. Aku, gadis dari selatan pulau
sulawesi yang tak mengerti kehidupan diluar selain kehidupanku yang menjual
gogoso setiap harinya. Mana mungkin dapat disejajarkan oleh petra?
Aku menyadari semua itu, namun tak mengurangi apa yang aku
rasakan saat ini padanya.
Air laut yang menari dipermainkan
ombak, semakin sore seperti asyik merayapi batu karang yang membentuk
fatamorgana silau disirami sinar matahari yang mulai menguning. Aku tidak mengerti dimensi waktu saat
bersama petra, semua menjadi terlalu cepat tanpa benar-benar kita sadari.
Dan celah-celah awan yang putih.
Terpancar cahaya terang dari sang matahari yang mulai turun. Mengintipku yang
mulai diam menatap sinarnya dengan ragu. Seolah ingin mengkristalkan waktu.
Agar tidak terucap satu kata
perpisahan hari ini.
Pualu samalona yang berwarna warni
mulai terlihat gelap seiring dengan terbenamnya sang surya.
Petra melihat kearahku. “kau
melihat ini setiap hari?” tanyanya sambil kemballi menatap matahari diujung
lautan.
“ya, hampir setiap sore.” Aku
menjawabnya sembari tersenyum. Langit menyapaku lebih dari biasanya. Seolah
mengerti suasa hatiku saat ini. ombak dari pantai losari menyapu kaki kami
dengan lembut.
“aku mencintai kota ini, dan aku berjanji
suatu saat nanti akan kembali lagi untuk memeluk tanah makassar ini bersama
seseorang.” suaranya yang beriringan dengan angin sore mengahangatkan hatiku.
“jangan pernah berjanji untuk hal
yang sulit kamu tepati” aku berbalik badan dan meninggalkan petra yang masih
tertegun oleh perkataanku.
Hari ini, di pulau yang hanya
seluas 2 hektar, aku mengerti apa itu cinta. Namun disaat bersamaan, aku juga
mengerti apa itu kenyataan.
Baca Surga dipulau Samalona II (sudut pandang petra)
bagus sekali cerpennya, sangat menghanyutkan (y) tapi endingnya bikin penasaran krn tdk ada lanjutannya :'( keren..keren :)
ReplyDeletemakasih :D tapi ada ko lanjutannya hehe
ReplyDelete